29 July 2022, 22:48 WIB

Menteri ESDM Tinjau Progres Pembangunan Smelter Freeport di Gresik 


Mediaindonesia.com |

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif meninjau progres pembangunan smelter Freeport yang berlokasi di kawasan Java Integrated and Industrial Port Estate (JIIPE), Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (29/7). Dalam kunjungan itu, Arifin melihat langsung lokasi proyek seluas 100 hektare dengan didampingi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. 

"Progresnya saya lihat terukur dan kini sudah mencapai 34,9%. Biaya yang sudah dikeluarkan lebih dari US$1 miliar. Ditargetkan sampai akhir tahun ini progresnya bisa mencapai 50%," kata Arifin di Gresik, Jumat. 

Pemerintah akan terus mendorong percepatan pembangunan itu. Salah satu upayanya dengan pengaturan mengenai pertambangan serta regulasi mengenai keharusan hilirisasi. 

Tony mengakui progres pembangunan saat ini cukup bagus dan melebihi dari yang ditargetkan. Diharapkan hingga akhir tahun ini progres pembangunan smelter Freeport bisa mencapai 50% dengan biaya yang dikeluarkan sekitar US$1,5 miliar.

Baca juga: BUMN Genjot Produksi Gula Hingga 400 Ribu Ton Di 2025 

"Untuk sekarang yang sudah kami kerjakan yaitu beberapa pailing (pondasi tiang pancang) telah terpasang, yakni mencapai 11 ribu dari total 16 ribu pailing atau 65% dengan kongkret pouring mencapai 20 ribu meter kubik dari rencana total sekitar 220 ribu meter kubik," katanya. Aktivitas pembangunan hingga kini terus dilakukan secara intensif. Perusahaan kontraktor PT Ciyoda International Indonesia (CII) tengah fokus pemadatan lahan serta dibantu Adhi Karya dan beberapa kontraktor lokal lain. 

Ia menargetkan konstruksi fisik pembangunan smelter Freeport rampung secara total pada akhir 2023. Hal itu bukan hanya smelter Manyar tetapi ekspansi PT Smelting yang akan ditambah sebesar 300 ribu ton. "Untuk mulai produksi, kami rencanakan pada Mei 2024," kata Tony. 

Dalam menjalankan progres pembangunan smelter Freeport di Gresik, ia mendapati tantangan utama di lapangan yakni situasi covid-19 yang membuat pekerjaan terhenti karena ada kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun, dengan penjadwalan ulang yang disepakati bersama, kini proyek smelter tembaga singel line terbesar di dunia telah kembali ke jalur progres semula. "Kami yakni proyek ini akan mampu selesai sesuai target, meski jadwalnya cukup ketat, sesuai dengan yang disepakati Kementerian ESDM," kata Tony. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT