15 July 2022, 13:58 WIB

Neraca Dagang RI pada Juni 2022 Surplus, BPS: Ditopang Minyak Kelapa Sawit


M. Ilham Ramadhan Avisena |

NERACA perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$5,09 miliar pada Juni 2022. Capaian ini memperpanjang rentetan kinerja positif perdagangan dalam 25 bulan terakhir.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengungkapkan bahwa komoditas penopang utama surplus dagang Indonesia pada Juni 2022 ialah minyak kelapa sawit. Nilai ekspor komoditas tersebut mencapai US$2,74 miliar.

"Minyak kelapa sawit menyumbang 54% terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2022," jelas Margo dalam konferensi pers, Jumat (15/7).

Secara bulanan, ekspor minyak kelapa sawit mengalami pertumbuhan 862,66% pada Juni 2022. Peningkatan ini sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya, setelah adanya larangan ekspor sementara.

Baca juga: IHSG Dibuka Melemah Pada Perdagangan Hari Ini

Ekspor kelapa sawit tertinggi dilakukan Indonesia ke Pakistan dengan nilai US$450,63 juta. Lalu, diikuti oleh ekspor ke Tiongkok US$314,38 juta, India US$270,57 juta dan Bangladesh US$160,65 juta.

Wilayah utama pemasok minyak kelapa sawit pada Juni 2022 berasal dari Riau, dengan nilai ekspor mencapai US$982,95 juta. Kemudian, Sumatera Utara senilai US$423,75 juta, Kalimantan Timur US$383,15 juta dan Sumatera Barat senilai US$290,13 juta.

Total ekspor Indonesia pada Juni 2022 mencapai US$26,09 miliar, atau naik 21,30% dibanding ekspor Mei 2022. Ekspor nonmigas Juni 2022 mencapai US$24,56 miliar, atau naik 22,71% dibanding Mei 2022, berikut naik 41,89% dibanding ekspor nonmigas Juni 2021.

"Secara bulanan, peningkatan ekspor nonmigas terbesar di Juni 2022 terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$2.538,9 juta, atau tumbuh 300,66%. Sedangkan penurunan terbesar pada komoditas besi dan baja sebesar US$491,7 juta atau turun 18,02%," imbuh Margo.

Adapun ekspor nonmigas Juni 2022 terbesar ke Tiongkok, yaitu US$5,09 miliar. Lalu, disusul India US$2,53 miliar dan Amerika Serikat US$2,46 miliar. Ketiga negara itu memiliki kontribusi sebesar 41,06%. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar US$5,08 miliar dan US$1,68 miliar.

Baca juga: Soal Data Audit Sawit, Luhut: Jangan Berani Bermain Kotor

Di lain sisi, kinerja impor Indonesia pada Juni 2022 tercatat US$21,00 miliar, atau naik 12,87% dibandingkan Mei 2022 dan naik 21,98% dibandingkan Juni 2021. Impor migas Juni 2022 mencapai US$3,67 miliar, atau naik 9,52% dibandingkan Mei 2022. 

Sementara itu, impor nonmigas Juni 2022 senilai US$17,33 miliar, atau naik 13,60% dibandingkan Mei 2022. Secara bulanan, peningkatan impor golongan barang nonmigas terbesar Juni 2022 terjadi pada mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$611,5 juta, atau 27,99%. 

Lalu, penurunan terbesar adalah gula dan kembang gula US$152,8 juta atau 39,57%. Pangsa impor Indonesia terbesar pada Juni 2022 adalah iongkok dengan nilai US$6,11 miliar, Jepang US$1,46 miliar dan Thailand US$0,90 miliar. Kontribusi impor dari tiga negara tersebut mencapai 48,88% dari total impor.

Secara kumulatif, sepanjang semester I 2022, neraca dagang Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar US$24,89 miliar. "Secara semesteran, surplus ini menjadi yang paling tinggi dari semester-semester sebelumnya," pungkasnya.(OL-11)

BERITA TERKAIT