08 July 2022, 17:50 WIB

Ekonom Minta Penguatan Dolar AS Diwaspadai


M. Ilham Ramadhan Avisena |

MENCERMATI kondisi perekonomian menjadi hal yang penting bagi pemerintah dan swasta untuk menghadapi kenaikan mata uang Amerika Serikat terhadap rupiah. Dengan begitu, langkah-langkah antisipasi dapat dilakukan secara baik.

Demikian disampaikan periset dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi, Jumat (8/7). "Terkait dengan penguatan Dolar saat ini saya kira langkah yang perlu diambil baik itu pemerintah maupun swasta adalah melihat kondisi," ujarnya.

Bagi pemerintah, kata dia, kenaikan nilai tukar dolar AS perlu dilihat sebagai pertimbangan dalam menjaga perekonomian. Sedangkan dari sisi moneter, hal tersebut dapat pula menjadi faktor untuk menentukan tingkat suku bunga acuan.

Kondisi tersebut juga dinilai erat kaitannya dengan upaya pemerintah dan BI menjaga inflasi nasional. Sebisa mungkin, sisi fiskal dan moneter mampu untuk menekan kenaikan laju inflasi.

Sebab, pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak terhadap kenaikan inflasi, utamanya pada komponen impor. Dalam konteks tersebut, BI sejatinya dapat menjadikan momentum kenaikan dolar AS untuk melakukan intervensi atau tidak.

"Karena kalau kita lihat amunisi BI untuk melakukan intervensi cukup besar. Mengingat cadangan devisa mengalami penambahan di data terakhir," jelas Yusuf.

Baca juga: Harga Pangan Dunia Turun pada Juni tetapi masih Tinggi

Sedangkan bagi swasta, kenaikan nilai tukar dolar AS perlu dijadikan bahan pertimbangan terkait langkah ekspansi bisnis. Bila sektor swasta itu amat bergantung pada bahan impor, maka dipastikan ada kenaikan biaya produksi. Sebab bahan baku menjadi lebih mahal dari sebelumnya.

Swasta juga sebetulnya memiliki pilihan untuk membebani kenaikan biaya produksi itu langsung kepada konsumen. Namun hal ini akan berdampak pada penurunan permintaan di pasar. Bahkan bila itu dilakukan kemungkinan akan terjadi pemangkasan margin keuntungan dengan risiko kinerja keuangan.

Adapun dalam perdagangan terakhir pekan ini nilai tukar rupiah menguat ke level Rp14.981 per dolar AS pada Jumat (8/7). Rupiah menguat tipis 0,03% dari posisi kemarin. Namun dalam sepekan ini kurs Jisdor melemah 0,17% dari posisi Rp14.956 per dolar AS.

Sementara kurs rupiah spot menguat 0,15% menjadi Rp14.979 per dolar AS. Namun di pekan ini kurs rupiah spot melemah 0,24% dari posisi Rp14.943 per dolar AS. Kurs rupiah spot tersebut menguat dari hari sebelumnya di level Rp15.002 per dolar AS, terlemah sejak Mei 2020.

Diketahui penguatan dolar AS terhadap rupiah bakal berdampak pada kondisi utang luar negeri (ULN) pemerintah dan swasta. Menilik data BI, ULN pemerintah pada April 2022 tercatat US$190,5 miliar, turun dari bulan sebelumnya yang berada di level US$196,2 miliar.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN pemerintah mengalami kontraksi sebesar 7,3% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya yang sebesar 3,4% (yoy).

Sedangkan posisi ULN swasta pada April 2022 tercatat sebesar US$210,2 miliar, tumbuh rendah sebesar 0,03% (yoy), setelah mengalami kontraksi 1,6% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Dus, posisi ULN Indonesia pada akhir April 2022 tercatat sebesar US$409,5 miliar, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar US$412,1 miliar. (OL-4)

BERITA TERKAIT