07 July 2022, 12:43 WIB

Stok dan Harga Pangan Aman, Presiden Apresiasi Mentan


Andhika Prasetyo |

Presiden Joko Widodo mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang bisa menjaga kuantitas produksi pangan utamanya beras dalam kurun tiga tahun terakhir.

Hasil positif tersebut membuat Indonesia, sejauh ini, bisa terhindar dari ancaman krisis pangan global. "Harga bahan pangan di seluruh dunia naik. Ada yang naiknya 30%. Ada yang sudah 50%. Untungnya kita ini, alhamdulillah, rakyat kita utamanya petani masih berporudksi beras dan sampai saat ini harganya belum naik, moga-moga tidak naik," ujar Jokowi dalam Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional di Medan, Sumatra Utara, Kamis (7/7).

Kepala negara menyebut, sejak 2020, produksi padi nasional begitu melimpah bahkan melebihi angka kebutuhan di dalam negeri. Alhasil, Indonesia tidak lagi mengimpor beras seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Karena stoknya selalu ada dan sudah tiga tahun kita tidak impor beras lagi. Biasanya kita impor 1,5 juta ton sampai 2 juta ton. Ini sudah tidak impor lagi. Ini Menteri Pertanian hadir di sini. Terima kasih Pak Menteri," ucap Presiden.

Kendati demikian, ia berpesan kepada SYL untuk tidak berpuas diri. Pasalnya, masyarakat Indonesia tidak hanya mengonsumsi beras saja. Ada banyak bahan pangan pokok lain yang juga dibutuhkan, dan sayangnya tidak banyak bahkan tidak bisa diproduksi di Tanah Air, contohnya gandum. "Kita impor gandum besar sekali, 11 juta ton. Hati-hati yang suka makan roti, yang suka makan mi. Itu bisa naik harganya karena ada perang di Ukraina," tutur mantan wali kota Solo itu.

Ia menjelaskan bahwa situasi perang antara Ukraina dan Rusia memberi dampak besar terhadap kenaikan harga gandum dan produk-produk turunannya. Itu terjadi karena lebjh dari 40% produksi gandum berasal dari dua negara Eropa Timur tersebut.

Ketika berkunjung ke Kyiv, Jokowi mengaku sempat menanyai Presiden Volodymyr Zelensky tentang stok gandum di Ukraina.

Zelensky kemudian mengatakan ada sekitar 77 juta ton gandum yang tersimpan. Stok tersebut tidak bisa dikirim ke luar negeri karena ada perang yang berkecamuk.

Hal serupa terjadi di Rusia. Di Negeri Beruang Merah, stok gandum yang tertahan bahkan jauh lebih besar yaitu menyentuh 137 juta ton.

"Karena barang itu tidak bisa ke luar dari Ukraina, dan Rusia, negara-negara Afrika dan beberapa di Asia, yang menjadikan gandum sebagai bahan pangan utama, kini sudah mulai kekurangan pangan akut. Sudah mulai yang namanya kelaparan. Bayangkan. Ini terjadi karena ketergantungan gandum kepada Ukraina dan Rusia," jelas Jokowi. (OL-12)

BERITA TERKAIT