06 July 2022, 19:52 WIB

Perubahan Iklim Tuntut Adanya Inovasi pada Pangan


M Ilham Ramadhan Avisena |

PERUBAHAN iklim menjadi ancaman nyata yang turut berimbas pada sektor pertanian. Sejumlah negara mengalami krisis akibat keterlambatan produksi pangan lantaran perubahan cuaca secara drastis dan tak menentu.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry menyampaikan kondisi itu menuntut tiap negara termasuk Indonesia untuk berinovasi mengembangkan varietas unggulan.

"Indonesia sudah menyiapkan beberapa varietas padi yang toleran menghadapi perubahan iklim," ujarnya ditemui di Bali, Rabu (6/7).

Indonesia, lanjut Fadjry, telah memiliki varietas padi yang mampu tahan pada kekeringan di lahan kering, yakni inpago. Varietas ini disebut menjadi yang paling toleran terhadap kondisi kekeringan dan telah dikembangkan di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, serta sejumlah wilayah lain.

Selain itu, Indonesia juga telah memiliki varietas padi yang tahan pada hujan dan banjir, yakni inpari. Varietas ini disebut tahan terhadap genangan, dan tetap tumbuh meski digenangi air selama 3 minggu.

"Ini sudah kita kembangkan di Kalimantan Tengah, hasilnya menggembirakan dapat 4-5 ton per hektare," tutur Fadjry.

Kemudian, lanjutnya, Indonesia juga memilliki varietas padi yang toleran menghadapi intrusi air laut, di mana air laut masuk ke bawah tanah melalui akuifer di daratan maupun daerah pantai.

"Kita sudah menyiapkan varietas untuk di pantura namanya inpari salin, jadi padi yang toleran terhadap kegaraman," tambah Fadjry.

Baca juga: Pemanfaatan Hutan Berkelanjutan Jadi Solusi Perubahan Iklim

Tak hanya itu, Balitbangtan turut mengembangkan varietas untuk kebutuhan khusus seperti stunting, yakni padi inpari nutri zinc. Inpari nutri zinc memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan beberapa varietas lain khususnya dalam hal kandungan zinc (Zn).

Dalam waktu dekat, ucap Fadjry, Balitbangtan juga akan mengembangkan varietas unggulan baru yang rendah emisi. Ini dilakukan guna mendukung penguatan pangan tahan iklim.

"Ini terkait dengan gas rumah kaca (GRK), sektor pertanian menyumbang cukup tinggi pada GRK. Oleh karena itu adaptasi menghadapi perubahan iklim itu menjadi penting," tukasnya.

"Kita di Litbang diminta menyiapkan varietas padi yang rendah emisi yang memang secara genetik emisi metan-nya rendah. Ini kita perlu tahu, Indonesia sudah cukup memadai menyiapkan," ucapnya.

Dia melanjutkan, ragam inovasi tersebut turut mendorong ketahanan pangan nasional. Hal ini tercermin dari kemampuan produksi beras nasional yang mencukupi dalam tiga tahun terakhir dan tidak melakukan impor di periode itu.(OL-5)

BERITA TERKAIT