21 June 2022, 17:04 WIB

Peningkatan Produktivitas Pangan Jangan Andalkan Pembukaan Lahan


M. Ilham Ramadhan Avisena |

UNTUK meningkatkan produktivitas pangan nasional, ekstensifikasi melalui pembukaan lahan bukanlah solusi terbaik mengingat terbatasnya jumlah lahan yang tersisa serta potensi rusaknya lingkungan yang mungkin ditimbulkan.

"Ada beberapa hal yang menyebabkan sulitnya pembukaan lahan pertanian terwujud, seperti gencarnya industrialisasi dan pembangunan infrastruktur. Industrialisasi dan pembangunan infrastruktur tidak jarang harus mengorbankan lahan pertanian," jelas Peneliti Ccenter for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi melalui keterangannya, Selasa (21/6). 

Baca juga: Wapres Harap Peningkatan Perdagangan Produk Nonmigas ke Azerbaijan

Ia menambahkan, memaksakan untuk membuka lahan tidur juga berisiko merusak lingkungan, apalagi kalau dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertanggung jawab.

Pencetakan sawah baru, apalagi di lahan gambut, akan menghabiskan waktu yang lama. Selain belum tentu bisa menjamin stok pangan yang cukup, karakteristik lahan yang dibuka untuk pertanian juga belum tentu cocok.

"Proyek mencetak lahan sawah baru tidak tepat untuk meningkatkan ketahanan pangan. Jika dilakukan secara tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar," bebernya.

Azizah mengatakan pemerintah sebaiknya tidak mengulang kesalahan dengan menciptakan program pencetakan sawah secara masif seperti pada Proyek Pengembangan Lahan Gambut Satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah yang pernah dilakukan di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.

Proyek tersebut menunjukkan bahwa lahan gambut tidak cocok untuk padi serta pengolahan lahan gambut juga memperparah perubahan iklim akibat pelepasan karbon yang dikandungnya ke udara.

Pemerintah sebaiknya lebih fokus meningkatkan kapasitas petani dengan melalui pelatihan, penyuluhan dan bimbingan soal penggunaan alat-alat pertanian yang lebih efisien dan pembaharuan metode tanam.

Investasi untuk peralatan pasca panen seperti mesin pengering juga penting demi meningkatkan kualitas beras yang kini menjadi makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia.

Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana memberikan petani akses permodalan yang skema pembayarannya ramah terhadap kegiatan bercocok tanam mereka.

Memastikan akses petani terhadap input pertanian berkualitas juga sangat penting, misalnya melalui skema Kartu Tani dan memastikan distribusi pupuk subsidi yang tepat sasaran dan harga pupuk subsidi bisa tetap terjangkau. (OL-6)

BERITA TERKAIT