21 June 2022, 16:27 WIB

Dolar AS Ditutup Melemah, Rupiah Berada di Zona Hijau


Insi Nantika Jelita |

PADA penutupan perdagangan Selasa (21/6), dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya. Sementara, nilai tukar atau kurs rupiah menguat. 

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang rupiah menguat 23 poin di level Rp14.812 dari penutupan sebelumnya Rp14.836.

Baca juga: Presiden: Kendalikan Komoditas Utama, Kekuatan Indonesia Semakin Jelas

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah akan dibuka berfluktuatif, namun ditutup menguat tipis di rentang Rp14.790 - Rp14.840," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (21/6).

Penguatan rupiah, ungkap Ibrahim disebabkan adanya apresiasi pelaku pasar atas kinerja pemerintah tentang utang luar negeri yang menyusut di tengah banyak negara diambang kebangkrutan akibat konflik Rusia - Ukraina yang berkepanjangan.

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi ULN Indonesia pada akhir April 2022 tercatat US$409,5 miliar, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar US$412,1 miliar atau turun US$2,6 miliar. 

Perang di Ukraina pun diyakini dapat menguntungkan Indonesia dengan harga komoditas yang melonjak, seperti batu bara.

Hal ini pun akan berimbas terhadap utang pemerintah yang semakin sehat disebabkan oleh penurunan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Hal ini menjadi kabar baik, mengingat ke depan risiko akan melonjaknya utang menjadi sangat tinggi. Rasio utang terhadap PDB saat ini adalah 39% dengan nominal utang mencapai Rp7.040,32 triliun," ujar Ibrahim.

Sementara, menurut Ibrahim, pelemahan dolar AS disebabkan karena investor mengawasi sikap dari bank sentral utama yang mengekang inflasi.

Bank sentral utama mengambil tindakan untuk menjinakkan inflasi dan menaikkan suku bunga, menambah kekhawatiran investor tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi.

St. Presiden Fed Louis James Bullard memperingatkan bahwa AS ekspektasi inflasi bisa menjadi tidak tertambat tanpa tindakan Fed yang kredibel. (OL-6)

BERITA TERKAIT