16 June 2022, 13:03 WIB

Researcher Zipmex Jelaskan Penyebab Koreksi Pasar Aset Kripto


mediaindonesia.com |

KONDISI sosiopolitik global yang tidak menentu telah membawa perekonomian Amerika Serikat mengalami inflasi sebesar 8,6% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Tingkat ini mencatat rekor tertinggi sejak tahun 1981.

Untuk menekan laju inflasi, bank sentral Amerika Serikat atau yang lazim dikenal sebagai The Fed memberikan sinyal akan kembali menaikkan suku bunga.

Akibatnya, investor institusional cenderung beralih ke instrumen investasi yang dinilai berisiko lebih rendah.

Hal ini berdampak pada penurunan permintaan pada instrumen investasi dengan profil risiko yang lebih tinggi, seperti saham perusahaan teknologi dan aset kripto, yang mengakibatkan penurunan nilai pasar aset digital secara keseluruhan.

Selain faktor makroekonomi, pada sesi mingguan “Zipmex Live: Ada Apa dengan Kripto?” yang diadakan oleh Zipmex Indonesia pada Senin (13/6),

Research Analyst Zipmex Indonesia Fahmi Almuttaqin menyampaikan pergerakan pasar kripto juga dapat turut dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya.

Baca juga: Ingin Jadi Penambang Kripto, Begini Tipsnya Bagi Pemula

“Penurunan nilai pada aset kripto juga turut dipengaruhi oleh beberapa insiden dari segelintir pelaku industri kripto," kata Fahmi dalam keterangan pers. Kamis (16/6).

"Setelah terjadinya insiden pada stablecoin TerraUSD dan saudaranya Luna pada bulan Mei lalu, investor aset kripto kini diterpa krisis kepercayaan akibat dibekukannya fitur penarikan dana di Celsius Network, sebuah platform digital yang memungkinkan penggunanya mengajukan pinjaman dengan aset kripto sebagai jaminan,” jelas Fahmi.

Kendati demikian, jumlah wallet dengan kepemilikan lebih dari 10.000 Bitcoin tercatat mengalami kenaikan dalam beberapa minggu terakhir. Situasi ini mencerminkan posisi investor skala besar yang berada dalam posisi akumulasi mengingat data Coinbase Premium Index masih berada pada angka negatif.

Coinbase Premium Index sendiri merupakan sebuah indeks yang kerap digunakan untuk menjadi penanda seberapa besar permintaan terhadap Bitcoin. Indeks di angka negatif menunjukkan keengganan investor asal Amerika Serikat untuk membeli Bitcoin pada harga premium.

“Harga aset kripto pada umumnya berkorelasi dengan jumlah wallet yang menyimpan Bitcoin dalam jumlah signifikan," ujar Fahmi.

"Bila kita melihat data historikal, jumlah wallet dengan kategori ini mengalami penurunan terbesar di puncak harga Bitcoin pada 2021. Artinya, periode tersebut merupakan waktu di mana investor merealisasikan profit atas aset Bitcoin yang dimilikinya," tuturnya.

Kenaikan jumlah wallet yang memiliki lebih dari 10.000 Bitcoin dalam beberapa minggu terakhir memberikan sinyal positif, karena kondisi ini mengindikasikan investor besar masih memiliki kepercayaan terhadap nilai Bitcoin.

"Selain itu, projek-projek berbasis teknologi blockchain seperti NFT, DeFi, atau Play to Earn berkualitas tinggi yang baru dibangun pada tahun 2021 terpantau mulai menunjukkan progresnya di tahun 2022 dan berpotensi berkontribusi pada peningkatan nilai pasar secara keseluruhan,” jelas Fahmi. (RO/OL-09)

 

Zipmex Live adalah sesi edukasi rutin yang diadakan oleh Zipmex Indonesia. Acara mingguan yang disiarkan langsung secara daring ini bertujuan untuk memberikan informasi terkini mengenai sentimen pasar aset kripto sekaligus menjadi sarana berdiskusi antara crypto enthusiast. Zipmex Live dapat diakses melalui akun Instagram dan kanal YouTube Zipmex Indonesia setiap hari Senin pukul 19.30 WIB.

BERITA TERKAIT