09 June 2022, 18:28 WIB

Kenaikan Harga Sejumlah Bahan Pangan Dinilai masih Wajar


M Ilham Ramadhan Avisena |

KENAIKAN harga sejumlah bahan pangan yang terjadi beberapa waktu terakhir dinilai masih berada dalam batas wajar dan terkendali. Pemerintah memastikan telah berupaya mengendalikan gejolak harga melalui langkah-langkah antisipatif.

Demikian dikatakan Deputi Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud saat ditemui di Jakarta, Kamis (9/6). Dinamika perekonomian global dan faktor lain, menurutnya, memengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas pangan.

"Komoditas lain memang kita tidak bisa menyalahi bahwa beberapa komoditas naik cukup tinggi akibat dampak global. Kalau pun naik, itu masih sedikit-sedikit, masih di tingkat wajar," ujarnya.

Dia menyampaikan kenaikan sejumlah harga komoditas pangan umumnya terjadi karena persoalan distribusi maupun supply dan demand. Karenanya, pada beberapa jenis bahan pangan, pemerintah mengeluarkan kebijakan antisipatif.

"Biasanya ini permasalahan ada di supply demand. Kalau suplai sedikit, harga naik. Nah kami menjamin suplai tersedia dan harga bisa terbentuk di harga yang wajar," kata Musdhalifah.

Salah satu yang dianggap berhasil ialah pengendalian harga gula. Pemerintah membuat kebijakan antisipatif sejak tahun lalu untuk memenuhi pasokan gula dalam negeri sehingga harga tak terkerek naik. "Keputusan itu sudah kami antisipasi sejak tahun lalu bahwa kita harus menyediakan gula konsumsi sekian, gula industri sekian, sehingga produsen gula rafinasi atau pun penyediaan gula konsumsi ini bisa tersedia dengan aman," jelas Musdhalifah.

Komoditas lain seperti kedelai juga tengah diupayakan agar tak terjadi lonjakan harga signifikan. Karenanya pemerintah memutuskan untuk memberikan subsidi kepada perajin tahu tempe. "Pemerintah melanjutkan subsidi harga untuk pembelian (kedelai) kepada perajin tahu tempe," terang Musdhalifah.

Baca juga: Gapgindo Dukung Pencapaian Swasembada Gula 2024

Lebih lanjut dia menyampaikan, naiknya harga-harga sejumlah bahan pangan merupakan indikasi terbentuknya harga keekonomian baru. Soalnya, dalam dua tahun terakhir perekonomian mandek akibat pandemi covid-19.

Hal tersebut berdampak pada menurunnya permintaan, produksi, hingga laju distribusi. "Ini keekonomian baru, karena dua tahun kemarin kita sempat stagnan, produsen juga mengurangi produksi karena demand turun akibat dampak covid-19, transportasi terbatas, dan sekarang ekonomi baru bergeliat," pungkas Musdhalifah. (OL-14)

BERITA TERKAIT