03 June 2022, 15:28 WIB

Anggaran Subsidi Ditambah, Bisa Redam Laju Inflasi


M. Ilham Ramadhan Avisena |

PENAMBAHAN anggaran subsidi dan kompensasi dalam APBN akan meredam dampak negatif dari dinamika global. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu.

Menurutnya, fiskal negara bisa menjadi alat untuk menstabilkan sejumlah harga pangan dan energi, yang diprediksi terus melonjak.

"Dengan tambahan alokasi tersebut, ditambah berbagai kebijakan stabilisasi harga, tingkat inflasi domestik diharapkan terus terjaga. Sehingga mampu menjaga daya beli masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/6).

Baca juga: Minyak Goreng dan BBM Jadi Faktor Pengerek Utama Inflasi

"Ini penting untuk memastikan tren pemulihan ekonomi Indonesia, yang masih dalam tahap awal terus berlanjut. Untuk menjaga daya beli masyarakat miskin dan rentan, pemerintah terus menggelontorkan anggaran perlindungan sosial," sambung Febrio.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Mei 2022 melanjutkan tren peningkatan yang mencapai 3,55% (April 2022: 3,47%). Inflasi ini merupakan yang tertinggi sejak Desember 2017, di mana terdapat pengaruh tekanan harga komoditas global dan dampak kenaikan permintaan Lebaran.

Secara bulan ke bulan, inflasi Mei tercatat menurun ke level 0,40% (April 2022: 0,95%). Perkembangan inflasi inti didorong oleh daya beli masyarakat yang semakin pulih di tengah dampak dari kenaikan harga komoditas global.

Inflasi Inti Mei 2022 turun tipis sebesar 2,58% (yoy) (April 2022: 2,60). Terdapat peningkatan inflasi pada komoditas jasa, seperti rekreasi dan jasa restoran. 

Baca juga: Mei, Nilai Tukar Petani Alami Penurunan

Di samping itu, komoditas inti pangan juga mengalami kenaikan seperti, ikan segar dan roti manis. Lalu, terdapat perlambatan inflasi sandang dan perawatan pribadi seiring normalisasi permintaan setelah lebaran.

Inflasi harga pangan bergejolak kembali meningkat mencapai 6,05% (yoy) (April 2022: 5,48%). Beberapa komoditas yang meningkat, seperti telur dan daging ayam ras, karena adanya peningkatan harga pakan. Lalu, kenaikan harga bawang merah akibat minimnya pasokan.

"Perlu diwaspadai faktor musim kemarau basah, yang mendorong penurunan produktivitas aneka cabai. Serta, kenaikan harga pupuk yang dapat mendorong naiknya harga bahan pangan umum, seiring pembatasan ekspor pangan dan pupuk di 10 negara," jelas Febrio.(OL-11)

BERITA TERKAIT