02 June 2022, 22:47 WIB

Bangkitkan Rempah Nusantara, Kanada-Indonesia Jalin Kolaborasi Gelar temu Bisnis


Dero Iqbal Mahendra |

REMPAH-rempah nusantara pernah menjadi primadona dunia pada masanya, meski kini tak sepopuler dulu. Namun potensi rempah nusantara masih tersimpan untuk kembali dikembangkan, terlebih mayoritas petani rempah nusantara merupakan usaha kecil menengah serta kaum perempuan. 

Setelah sukses menyelenggarakan dua Temu Bisnis di Belitung dan Bali pada 2021, dan berhasil mengadakan Temu Bisnis Internasional untuk pertama kalinya pada Maret lalu yang menghubungkan pembeli dari Kanada, Jerman, dan Filipina dengan UKM/petani kopi dari wilayah sekitar Ijen, Yogyakarta, dan Bali. Kini kegiatan serupa dilakukan untuk membuka akses pasar nasional dan internasional bagi petani rempah.

Dalam kegiatan kali ini temu bisnis dengan pasar luar negeri dilakukan dalam dua kategori, yakni Temu Bisnis Internasional antara UKM lokal dan petani rempah dengan pembeli mancanegara secara daring, serta Temu Bisnis Nasional dan Expo Rempah yang mempertemukan petani rempah lokal dan UKM dari Sulawesi dengan pembeli domestik besar.

Kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan pendapatan perempuan dan laki-laki di daerah serta memperkuat daya saing dan kewirausahaan UKM lokal.

“Kanada sangat bangga mendukung upaya Indonesia untuk menciptakan lapangan kerja dan pendapatan bagi perempuan dan laki-laki yang miskin dan rentan dengan meningkatkan iklim investasi dan memperkuat pembangunan ekonomi lokal di 28 kabupaten di Indonesia-dari Sumatra hingga Papua Barat,” ungkap Chargé d’affaires a.i Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, Mark Strasser, Kamis (2/6). 

Kegiatan itu juga sejalan dengan program Pemerintah Indonesia ‘spiceup the world’. Karenanya meski keterlibatan sektor swasta dalam semua kegiatan ekonomi ini sangat penting untuk keberhasilan dan keberlanjutan inisiatif akses pasar. Namun peran pemerintah juga tidak kalah penting karena berperan memfasilitasi dan mendukung ekosistem yang memungkinkan untuk menjalin koneksi bisnis.

Bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan PT Sarinah, Proyek NSLIC/NSELRED telah mendampingi kelompok tani dari Pulau Siau, Minahasa Utara, Minahasa, Minahasa Selatan, Bone, Bulukumba, Sinjai, Enrekang, Luwu, dan Luwu Timur untuk menyiapkan informasi, data dan spesifikasi terkait rempah-rempah dan menerbitkan sebuah katalog yang menampilkan produk rempah-rempah mereka untuk memudahkan proses temu bisnis dan penjualan.

Baca juga : Kementan Dukung Pulau Sumba Jadi Lumbung Sorgum Nasional

Dalam kesempatan yang sama Direktur Proyek NSLIC/NSELRED Peter Walton menjelaskan, pihaknya ingin menjadi yang terdepan dalam upaya menumbuhkan pendapatan bagi petani dan UMKM Indonesia, baik perempuan dan laki-laki, melalui peningkatan akses ke pasar nasional dan internasional untuk produk lokal, dalam hal ini rempah-rempah legendaris dari Sulawesi yang dulu dikenal dengan sebutan Celebes. 

“Melalui upaya bersama seperti ini lah dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta, hubungan bisnis jangka panjang akan tercipta dan kehidupan orang-orang yang miskin dan kurang beruntung akan ditingkatkan. Kanada dengan senang hati memainkan peran kecilnya melalui Proyek NSLIC/NSELRED,” terang Peter.

Selain itu, Sarinah sebagai mitra Proyek NSLIC/NSELRED yang memiliki visi membina UKM dan produk-produk unggulan yang unik dari berbagai daerah di Indonesia dapat membawa dan memperkaya pengembaraan rempah-rempah Sulawesi ini ke dunia luar, di mana Sarinah memiliki sumber daya, manajemen, jaringan, serta sebagai BUMN terdepan di bidang ritel bersama INJOURNEY dapat mempengaruhi pembuat kebijakan untuk mengkurasi dan memasarkan rempah-rempah Indonesia ke dunia.

“Kolaborasi dengan begitu banyak institusi terkemuka akan memperlancar jalur menuju perdagangan rempah-rempah global. Pengaturan fasilitasi perdagangan dan bisnis kami yang baru dan inovatif sebagian besar dirancang untuk mengekspor brand domestik yang dikurasi tinggi termasuk rempah-rempah, herbal, dan produk kesehatan,” ungkap CEO PT Sarinah Fetty Kwartati.

Indonesia yang juga terkenal sebagai pulau rempah-rempah juga merupakan salah satu tempat di dunia yang memiliki bermacam-macam sumber alami yang menunggu untuk dipanen melalui pengembangan produk yang inovatif dan berkelanjutan merupakan daerah yang memiliki kekayaan lokal yang asli dan otentik. 

Kesepuluh kelompok yang terlibat dalam kegiatan temu bisnis ini beranggotakan lebih dari 14.000 petani dengan luas lahan tanaman pala, lada, maupun cengkeh sebesar lebih dari 21.000 hektar.

Untuk mengeksplorasi ide-ide dan pengetahuan baru tentang pasar rempah, acara Temu Bisnis Internasional maupun Temu Bisnis Nasional juga menyajikan dua talk show dengan mengundang narasumber dari Kementerian, Atase Perdagangan dari Kedutaan Besar Indonesia di Jerman, Belanda, UEA, India, dan Mesir, termasuk juga PT Sarinah dan sektor swasta. (OL-7)

BERITA TERKAIT