02 June 2022, 13:59 WIB

Presiden: Diversifikasi Pangan Harus Dilakukan


Andhika Prasetyo |

PRESIDEN Joko Widodo mendorong seluruh pemerintah daerah di Tanah Air untuk melakukan upaya diversifikasi pangan. 

Langkah tersebut harus dilakukan agar Indonesia memiliki alternatif dalam sektor pertanian. Sehingga, tidak bergantung pada padi saja.

Arahan itu disampaikan Kepala Negara saat melakukan penanaman sorgum di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (2/6).

"Kita perlu banyak alternatif yang bisa kita kerjakan. Diversifikasi pangan, alternatif bahan pangan, tidak hanya tergantung pada beras, karena kita memiliki jagung, sagu dan juga ada tanaman lama kita, yaitu sorgum," tutur Presiden.

Baca juga: Presiden Jokowi Panen Pardana Sorgum di Sumba Timur

Menurut Jokowi, sapaan akrabnya, sorgum yang merupakan bahan pangan tinggi karbohidrat memiliki potensi besar untuk berkembang di Tanah Air.

Sebagai proyek pilot, tanaman itu dibudidayakan di Sumba Timur di atas lahan seluas 60 hektare. "Kita lihat sendiri, hasilnya sangat baik, secara ekonomi juga masuk," imbuhnya.

Berdasarkan pengakuan para petani setempat, dalam sekali panen, mereka bisa menghasilkan 5 ton sorgum per hektare. Dengan hasil sebesar itu, petani bisa mengantongi sekitar Rp50 juta.

Baca juga: Mentan Dukung Pengamanan Pasokan Bahan Baku Pupuk NPK

"Hasilnya per hektare per tahun kurang lebih Rp50 juta. Ini sangat bagus. Kalau dibagi 12 bulan, kurang lebih dapat Rp4 juta per bulan. Ini sebuah hasil yang tidak kecil," jelas Jokowi.

Dirinya pun memerintahkan Gubernur NTT dan Bupati Sumba Timur untuk serius mengelola sektor pertanian tersebut. Luas lahan juga harus terus ditambah, sehingga volume hasil panen semakin besar.

Sebagai pelaku proyek pilot, pemerintah daerah setempat juga diminta mencatat kendala yang dihadapi untuk kemudian dicari solusi terbaik.

Baca juga: Petani Dukung Rencana Pemerintah Audit Seluruh Perusahaan Sawit

"Cari kendalanya apa, problemnya apa, kalau sudah ketemu, kita akan perbesar tanaman sorgum ini di NTT. Dengan harapan kita memiliki alternatif pangan dalam rangka menghadapi krisis pangan dunia," paparnya.

Bukan tidak mungkin, jika industri sorgum terus bertumbuh, Indonesia bisa menjadi pengekspor utama tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan pangan dan juga pakan ternak.

"Kalau kita ada berlebih, ada stok, justru ini yang ingin kita lakukan. Ekspor dan menghasilkan devisa bagi negara," sambung Kepala Negara.

Upaya diversifikasi merupakan sebuah keharusan di tengah ancaman krisis pangan dunia. FAO dan PBB telah berulangkali memperingatkan bahwa persoalan itu akan terjadi.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT