26 May 2022, 21:40 WIB

Lutfi Ajak Peserta WEF Kembali ke Prinsip-Prinsip Perdagangan untuk Sejahterakan Masyarakat


Fetry Wuryasti |

MENTERI Perdagangan Muhammad Lutfi menekankan lagi pentingnya setiap negara di dunia kembali ke perdagangan. Melalui perdagangan, kesejahteraan masyarakat dapat terwujud. Hal ini disampaikan Mendag Lutfi di sela gelaran World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss, pada Rabu (25/5).

“Ini saatnya bagi dunia untuk kembali ke perdagangan. Perdagangan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan melawan kemiskinan,” ujar Lutfi.

Pada WEF 2022, Lutfi mengikuti sejumlah forum dan menjadi pembicara di beberapa sesi diskusi untuk membahas berbagai permasalahan dunia. Ada tiga sorotan utama Lutfi, yaitu peluang peningkatan nilai tambah dan penciptaan ekonomi baru di tengah tantangan saat ini, perlunya sistem perdagangan multilateral dunia, dan mewujudkan pertumbuhan melalui kerja sama kawasan.

Kendati kondisi saat ini terkesan muram dan bahkan dikatakan para ekonom bahwa dunia tengah berada di ambang resesi yang luar biasa, namun Lutfi melihat peluang dari tantangan yang dihadapi.

“Sebagai bagian dari Pemerintah, saya melihat ini adalah peluang. Misalnya, tingginya harga komoditas saat ini membuat semakin banyak orang berinvestasi dan berinovasi menciptakan nilai tambah di negara-negara seperti Indonesia. Kesempatan ini merupakan peluang untuk menciptakan nilai tambah yang baik. Nilai-nilai komoditas yang baik ini menyebabkan negara-negara seperti Indonesia bisa naik kelas dalam rantai nilai global (GVCs) atau rantai pasok dunia,” jelas Lutfi. 

Selain itu, lanjut Lutfi, kesempatan itu harus diambil untuk dapat menciptakan ekonomi baru, seperti ekonomi hijau melalui pengembangan energi baru dan terbarukan, serta ikut menciptakan terobosan-terobosan perdagangan dunia.

Perdagangan, terutama perdagangan multilateral, sangat penting untuk kembali ditingkatkan. Melalui perdagangan tersebut, ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang yang selama ini terjadi diharapkan dapat diatasi. Indonesia akan menyuarakan kembali pentingnya membangun perdagangan multilateral dalam Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Juni 2022.

"Mudah-mudahan dengan ini kita bisa mengurai kebuntuan-kebuntuan pada Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-12 yang akan digelar pada 12—15 Juni 2022 di Jenewa, Swiss. Namun yang perlu diperhatikan, salah satu terobosan itu bukan hanya sistem perdagangan multilateral tetapi juga bagaimana menguasai kawasan untuk bisa mewujudkan pertumbuhan tersebut," tegas Lutfi.

Lutfi juga mendukung inisiasi terobosan baru Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang meluncurkan Indonesia Trading House di Swiss. Peluncuran tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kadin dan Pasar Indonesia.

Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Umum Kadin Arsjad Rasjid dengan Pemilik Pasar Indonesia Catharina Oehler pada Rabu (25/5) di Paviliun Indonesia, di Davos, Swiss. Penandatanganan disaksikan secara langsung oleh Lutfi dan Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman D. Hadad.

Baca juga : Konsolidasi Perbankan Syariah BUMN Bisa Berdampak Seperti Ini

“Kami mendukung inisiasi terobosan baru Kadin Indonesia dan Pasar Indonesia untuk bisa menjual produk-produk Indonesia, terutama produk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Pelaku UKM biasanya diliputi keragu-raguan saat melakukan penetrasi pasar baru dikarenakan risikonya yang tinggi,” ujar Lutfi.

Lutfi mengungkapkan, penandatanganan MoU antara Kadin dan Pasar Indonesia diharapkan bisa mendorong ekspor produk Indonesia di masa mendatang.

“Ini juga merupakan komitmen kami untuk bisa menjadi pemain di pasar lokal dan menjadi jagoan di pasar global,” imbuhnya.

Sementara Arsjad menyampaikan harapannya terhadap dukungan dari Kementerian.

“Langkah ini merupakan upaya untuk memfasilitasi agar UKM Indonesia bisa besar dan ikut mendapatkan insentif dari persetujuan Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA),” ujar Arsjad.

Pada periode Januari-Maret 2022, total perdagangan Indonesia-Swiss mencapai USD 1,36 miliar atau meningkat 349 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 301,96 juta. Sementara total perdagangan Indonesia-Swiss pada 2021 tercatat sebesar USD 1,99 miliar. 

Ekspor utama Indonesia ke Swiss pada 2021 yaitu perhiasan (USD 900,04 juta); emas (USD 212,17 juta); limbah dan scrap dari logam berharga (USD 76,01 juta), serat optik (USD 43,31 juta); dan perak (USD 31,17 juta).

Sedangkan impor utama Indonesia dari Swiss yaitu emas (USD 119,97 juta); jam tangan (selain kotak dari logam berharga) (USD 42,94 juta); jam tangan (dengan kotak logam berharga) (USD 42,31 juta); darah manusia, antiserum, vaksin (USD 29,38 juta); dan tinta cetak (USD 18,31 juta).

Di tahun yang sama, Swiss merupakan negara tujuan ekspor ke-28 dan asal impor ke-31 bagi Indonesia. Di sektor investasi, Swiss menempati posisi ke-10 sumber FDI Indonesia dengan nilai investasi USD 599,8 juta (281 proyek) dan menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 358 orang. Nilai FDI Swiss di tahun 2021 mengalami peningkatan tajam sebesar 358 persen dibandingkan tahun 2020. (OL-7)

BERITA TERKAIT