24 May 2022, 17:52 WIB

Tahun Ini, BI Proyeksikan Ekonomi Global Tumbuh 3,4%


Fetry Wuryasti |

BANK Indonesia (BI) melakukan suatu penilaian dari pembacaan terkini pertumbuhan ekonomi global. Terutama, sebagai dampak dari gangguan mata rantai pasokan global, yang terjadi seiring perkembangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Konflik antara kedua negara mengakibatkan gangguan mata rantai terus berlanjut dan juga mereka. Hal itu mengakibatkan berkurangnya volume perdagangan dunia, sebagai salah satu kontribusi di dalam perekonomian global.

Ketegangan geopolitik juga berdampak pada pelemahan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. Seperti, Eropa yang paling terdampak langsung karena kedekatan transaksi, maupun juga geografis dari Eropa dengan Rusia dan Ukraina.

Baca juga: Mengendalikan Inflasi, BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan

Namun, ada juga rambatan dari penurunan volume perdagangan dan pertumbuhan negara-negara lain, seperti Amerika Serikat (AS), India dan Jepang. Ditambah, penurunannya pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena lonjakan kasus covid-19.

"Secara keseluruhan, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi global yang semula bisa mencapai 3,5% pada 2022, ada risiko penurunan menjadi 3,4% pada 2022," ungkaps Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (24/5).

Untuk 2023, BI masih memperkirakan ekonomi global bisa tetap 3,4%. Demikian juga dampak terhadap kenaikan harga dan inflasi secara nasional.

Baca juga: Presiden: Menahan Harga BBM itu Berat

Sedangkan untuk percepatan dari normalisasi dari kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed), BI memperkirakan kenaikannya mencapai 250 bps sepanjang 2202. Sehingga, Fed Fund Rate secara keseluruhan pada akhir tahun ini bisa mencapai 2,75%.

Pada 2023, BI memperkirakan Fed Fund Rate naik sebanyak dua kali. Lalu pada akhir 2023, suku bunga The Fed akan mencapai 3,25%. Hal itu akan mendorong kenaikan surat utang negara AS atau US Treasury lebih tinggi. 

Tentunya, kebijakan The Fed akan berdampak pada kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) di dalam negeri. Pada 2022, yield UST untuk tenor 10 tahun bisa mencapai 3,45%, tidak jauh berbeda dengan perkiraan BI sebelumnya, yakni kenaikannya bisa menjadi 3–3,25%.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT