23 May 2022, 19:57 WIB

Produksi Ayam Berlimpah, Pelaku Usaha Peternakan Ingatkan Hal Ini


Mediaindonesia.com |

Surplus produksi ayam di dalam negeri berimplikasi terhadap penurunan harga daging ayam. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) harga daging ayam merangkak lemah sebesar Rp 1.050 atau turun 2.83 % dibandingkan pada bulan Mei tahun 2021. 

Sedangkan dari sisi produksinya, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud  mengatkan bahwa surplus produksi daging ayam menembus angka 883.000 ton.

Menyikapi fenomena tersebut, pelaku usaha di bidang peternakan mengingatkan pemerintah akan pentingnya untuk menjaga agar harga daging ayam tidak terjun terlalu dalam. 

Dalam keterangan kepada Media Indonesia, Founder PT Putra Perkasa Genetika (INDOFARM), Renaldy Anggada menyampaikan bahwa untuk merespon turunnya harga daging ayam maka Bantuan Pangan Non Tunai bisa melirik potensi daging ayam yang ada di dalam negeri.  Hal itu  akan menghadirkan kecukupan protein hewani bagi masyarakat penerima manfaat program dan di satu pihak dapat membantu peningkatan demand terhadap daging ayam dalam negeri. 

"Disamping itu perlu ada linking and match terhadap program pengentasan stunting di Indonesia lewat suatu gerakan yang masif misalnya gerakan makan daging dan telur ayam nasional. Tentu ini juga bisa menyasar daerah – daerah yang menjadi priroritas utama pengentasan stunting di Indonesia", ujar Renaldy. 

Ia juga menambahkan kalau harapan tersebut tidak hanya terhenti pada program penyerapan produksi peternak tetapi juga kepastian bibit unggul ayam broiler. 

Saat ini Indonesia sudah memiliki Great Grand Parent stock ayam pedaging broiler yang lahir dari proses yang cukup panjang dan hanya satu satu nya di Asia. Buah karya anak bangsa tersebut tentu tidak kalah dibandingkan dengan produk dari luar negeri. 

“Kedepan pemerintah perlu tetap memperhatikan potensi tersebut guna perkembangan industri peternakan yang mandiri dan berdaya saing. Hal ini tentu saja sesuai dengan harapan Bapak Presiden Joko Widodo yang menekankan pentingnya menyerap produk hasil dari dalam negeri, ya salah satunya adalah GGP ayam broiler unggul tersebut. Cara itu tentu bisa ditempuh guna menekan angka impor bibit ayam”, tegasnya.

Terkait dengan implementasi kebijakan tersebut, pemerintah perlu untuk tetap berkolaborasi aktif dengan para pelaku usaha di bidang peternakan, sehingga keberhasilan dalam penerapan kebijakan-kebijakan tersebut dapat benar – benar dirasakan oleh masyarakat serta mendukung program strategis pemerintah dalam mendorong usaha peternakan di Indonesia ke arah yang lebih baik. (E-1)

BERITA TERKAIT