20 May 2022, 10:55 WIB

The Fed Masih Terus Mencari Cara Kendalikan Inflasi


Fetry Wuryasti |

Muncul gagasan bagi Bank Sentral AS The Fed untuk meningkatkan target inflasi AS, dari sebelumnya di 2%. Dengan menaikkan target inflasi, ini akan meringankan beban target dari The Fed.

Pasalnya antara inflasi yang sedang berjalan di 8,3%, sedangkan target inflasi The Fed 2%, dan dinilai terlalu jauh untuk saat jarak antara keduanya. Namun gagasan itu langsung ditolak oleh Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

Yellen tidak melihat hal itu sebagai alasan untuk mengubah target inflasi yang ada saat ini. Memang ada potensi deglobalisasi untuk mendorong tingkat tren kenaikan harga, namun tantangannya adalah bagaimana negara dapat memenuhi target inflasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.

"Kami melihat menaikan target inflasi sebagai salah satu cara yang paling mudah, cepat, dan tidak memusingkan. Namun hal tersebut pun tidak mengubah kebijakan yang ada," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Jumat (20/5).

Yellen mengatakan alasannya karena jarak yang terlalu jauh antara inflasi dengan tingkat suku bunga. Hal ini disampaikan Yellen waktu acara pertemuan G7.

Yellen mengakui saat ini The Fed tengah menghadapi tantangan yang sangat sulit terkait dengan mengendalikan inflasi tanpa memicu resesi. Sebab untuk mewujudkan hal tersebut, The Fed butuh keterampilan dan keberuntungan.

Meski saat ini pasar saham tengah menghadapi tekanan yang berat akibat kemungkinan The Fed menaikkan tingkat suku bunga, The Fed tidak akan mundur sedikitpun untuk dapat menaikkan tingkat suku bunganya.

The Fed mengatakan bahwa minggu ini merupakan minggu yang cukup berat bagi pasar, namun demikian The Fed meyakini bahwa keyakinan investor untuk bertaruh “Fed Put” mungkin tidak akan terwujud. Fed Put adalah sikap dari Bank Sentral yang mengubah kebijakan untuk menopang pasar saham setelah terjadinya penurunan yang dalam.

Meski di mata pelaku pasar dan investor hal tersebut tidak mungkin terjadi, namun harapan bagi pelaku pasar dan investor adalah, The Fed menaikkan tingkat suku bunga hanya sebesar 25 bps dalam pertemuan berikutnya.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengakui ada gejolak di pasar, namun dia justru senang, karena pasar telah memperhitungkan kenaikkan tingkat suku bunga di masa yang akan datang, dan pasar keuangan telah bereaksi terlebih dahulu berdasarkan cara pandang terhadap perekonomian dan konsekuensinya.

"Saat ini kami melihat The Fed telah menjalankan tugasnya dengan baik, selama perekonomian ikut mendukung kenaikkan tingkat suku bunga The Fed. Karena Powell sempat mengatakan bahwa perekonomian lebih dari kuat untuk dapat menopang volatilitas pasar," kata Nico.

Yang diwaspadai oleh The Fed bukanlah penurunan saham, namun lebih kepada situasi dan kondisi pasar kredit dikhawatirkan dapat menciptakan masalah di masa yang akan datang apabila situasi dan kondisi tidak dapat di kendalikan.

Pada akhirnya juga dalam pertemuan G7, Amerika sepakat untuk memberi bantuan senilai US$40 miliar untuk Ukraina. Dari jumlah tersebut, Ukraina akan menerima US$7,5 miliar dalam bentuk hibah sebagai dukungan dalam sektor perekonomian.

Dalam pertemuan G7, mereka juga membahas cara mengatasi pendapatan dari penjualan minyak yang dilakukan oleh Rusia, dengan dampak yang seminimal mungkin terhadap harga energi. Amerika setuju untuk tidak lagi mengimpor minyak dari Rusia, dan Uni Eropa akan melakukan hal yang sama secara bertahap pada tahun depan. (OL-12)

BERITA TERKAIT