11 May 2022, 20:37 WIB

BI Dorong Digitalisasi untuk Memulihkan Sektor UMKM


Fetry Wuryasti | Ekonomi

SUDAH lebih dari dua tahun dunia menghadapi pandemi Covid-19, yang berdampak luar biasa dan substansial bagi perekonomian dunia, juga kehidupan sehari-hari. Pandemi tidak hanya menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga krisis ekonomi, yang mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan kemiskinan.

Merujuk pada sejumlah survei, seharusnya pembuat kebijakan segera menyehatkan UMKM. Pasalnya, di Indonesia dan juga di banyak negara lainnya, UMKM memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan pandemi, menghadapi berbagai tantangan dan juga mendapat manfaat dari inovasi digital, termasuk penggunaan e-commerce dan layanan keuangan digital.

"Platform digital terbukti efektif membantu UMKM memulihkan usaha. Digitalisasi, selain untuk meningkatkan akses pasar, juga meningkatkan inklusi keuangan khususnya melalui pemanfaatan keuangan digital," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam International Seminar on Digital Transformation for Financial Inclusion of Women, Youth, and MSMEs to Promote Inclusive Growth yang merupakan rangkaian side event Presidensi G20 Indonesia 2022, Rabu (11/5).

Bank Indonesia secara konsisten melaksanakan inisiatif pengembangan UMKM, berdasarkan tiga pilar kebijakan, yaitu mendorong korporatisasi, pengembangan kapasitas dan akses fasilitas pembiayaan.

Di luar itu, Bank Indonesia juga mendorong dan mendorong UMKM, melalui transformasi digital yang komprehensif dan inklusif, yang dilakukan di sepanjang rantai nilai untuk mendukung terciptanya ekosistem digital yang terintegrasi.

Inisiatif digitalisasi UMKM bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi, memperluas akses pasar UMKM dalam skala nasional dan global serta mempermudah pembiayaan bagi UMKM.

"Strategi kami menangani baik sisi permintaan maupun sisi penawaran. Dari sisi permintaan, kami meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM serta mendorong pemanfaatan digitalisasi yang lebih besar melalui proses bisnis UMKM. Dari sisi suplai kami menyiapkan infrastruktur untuk memfasilitasi UMKM dalam transformasi digitalnya," kata Perry.

Selain itu, adopsi yang lebih luas dari QR Indonesia Standard (QRIS), terus didorong untuk memfasilitasi transformasi digital UMKM.

Peningkatan penggunaan standar QR Indonesia (QRIS) menjadi upaya sebagai daya tarik dan menjadi pintu gerbang ekosistem ekonomi dan keuangan digital.

"Melalui standar QR Indonesia (QRIS), digitalisasi UMKM dapat dipercepat untuk mendukung ekonomi dan keuangan yang inklusif. Data kami pada 18 Maret 2022 menyebutkan bahwa dari 16,1 juta merchant terdaftar QR Indonesia standard (QRIS). Dari jumlah tersebut, sebanyak 89% di antaranya adalah UMKM," kata Perry.

Baca juga : Produk Ekonomi Kreatif Indonesia Tampil pada 1st TWG 2022

Tentu saja, jalan untuk mempromosikan UMKM, serta transformasi digital tidak selalu mudah. Sejumlah tantangan tampak di hadapan, seperti kemampuan ekonomi, literasi keuangan dan digital, serta keterbatasan akses teknologi dan infrastruktur digital.

Oleh karena itu, Bank Indonesia memiliki program inklusi keuangan bagi masyarakat rentan dan kurang mampu. Progam ini mengintegrasikan kegiatan ekonomi dan program inklusi keuangan, yang meliputi tiga langkah penting.

Pertama, pemberdayaan ekonomi, yang mengarahkan kaum perempuan untuk dapat mewujudkan mimpi mereka, mendirikan usaha mikro serta membentuk kelompok.

Kedua, pengembangan kapasitas. Upaya pengembangan kapasitas terkonsentrasi dan pengembangan produktivitas melalui inovasi dan digitalisasi proses bisnis, untuk meningkatkan daya saing UMKM.

"Bank Indonesia juga mendukung program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan UMKM, literasi keuangan dan perlindungan konsumen," kata Perry.

Ketiga, harmonisasi kebijakan. Bank Indonesia mendukung harmonisasi kebijakan pemerintah dan UMKM melalui implementasi undang-undang penciptaan lapangan kerja (Ciptaker), melalui penyederhanaan proses perizinan. 

Undang-undang tersebut mendorong pengembangan ekosistem UMKM dan dukungan e-commerce bagi UMKM untuk mengakses pemasaran global dan domestik, termasuk perizinan transaksi elektronik infrastruktur digital.

Perry menekankan digitalisasi adalah game changer dalam upaya Indonesia dan dunia untuk pulih dari pandemi. Dari tantangan tersebut, kita semua berusaha untuk membangun lebih banyak inklusivitas dalam ekonomi dan keuangan.

Dengan percepatan digitalisasi, sangat penting untuk dapat mencapai keseimbangan antara inovasi untuk mempromosikan inklusi keuangan digital dan mengelola risiko yang muncul.

"Pembuat kebijakan perlu memastikan bahwa semua risiko telah dimitigasi. Kami berharap seminar ini akan memungkinkan kita untuk mendiskusikan ide-ide kebijakan dan praktik terbaik untuk mempromosikan transformasi digital dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan dan ekonomi UMKM, perempuan dan kaum muda," kata Perry. (OL-7)

BERITA TERKAIT