28 April 2022, 14:04 WIB

NasDem: Tradisi Mudik Berpotensi Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi


Putra Ananda | Ekonomi

TRADISI mudik masyarakat Indonesia jelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup signfikan. Mudik dapat membawa pemerataan tingkat konsumsi masyarakat yang pulang ke kampung halamannya masing-masing. 

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai NasDem Lestari Moerdijat atau yang akrab disapa Rerie menjelaskan tidak sedikit pemudik yang membawa bantuan dan buah tangan untuk sanak keluarga. Begitupun kunjungan ke tempat wisata yang ada di daerah turut meningkat selama musim mudik berlangsung. 

Baca juga: Pintu Bagasi Pesawat Terbuka saat Take Off, Garuda Indonesia Minta Maaf

"Mudik mampu mampu menggerakkan perekonomian masyarakat di berbagai daerah serta bisa membangkitkan kembali solidaritas di antara masyarakat," ujar Rerie dalam keterangan tertulisnya yang diterima oleh Media Indonesia pada Kamis (28/4).

Rerie melanjutkan, dalam meningkatkan solidaritas sosial masyarakat secara nasional di tengah momentum mudik Lebaran, para pemangku kepentingan di pusat dan daerah juga harus dapat memberikan informasi yang tepat dan benar terkait sejumlah tantangan yang dihadapi negara kita saat ini. Dengan begitu masyarakat dengan sukarela bisa ambil bagian dalam berbagai upaya menjawab tantangan bangsa secara bersama-sama. 

"Kondisi perekonomian dunia yang dipengaruhi perubahan politik global, rawan bergejolak dan akan berdampak pada kondisi perekonomian nasional. 

Kesiapan Indonesia untuk menghadapi dampak gejolak perekonomian global, harus menjadi kepedulian bersama, baik oleh para pemangku kepentingan dan masyarakat," ungkapnya. 

Menurut Rerie, di tengah ancaman gejolak perekonomian global, tambahnya, jangan ada lagi oknum pejabat yang menyelewengkan kebijakan yang menciptakan beban terhadap masyarakat luas. Rerie sangat berharap upaya membangun kemandirian ekonomi harus terus dilakukan dalam menghadapi dampak gejolak perekonomian global. 

"Lewat kolaborasi yang baik antara pemangku kepentingan dan masyarakat," ujarnya. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam satu kesempatan pekan lalu mengatakan, saat ini, perekonomian global tengah menghadapi banyak risiko dari sisi ekonomi, misalnya tingkat inflasi yang melaju tinggi karena ada gangguan dari sisi pasokan.

Invasi Rusia ke Ukraina akan berefek pada kenaikan harga komoditas yang cukup ekstrim di berbagai belahan dunia. Sehingga memaksa pengetatan kebijakan moneter di berbagai belahan dunia dan menciptakan volatilitas di pasar keuangan.

Hal itu, jelas Sri Mulyani, akan menjadi ancaman sekaligus tantangan yang sangat nyata bagi proses pemulihan ekonomi, baik di negara maju maupun di negara berkembang. (OL-6)

BERITA TERKAIT