24 April 2022, 16:20 WIB

Tiga Faktor Bayangi Ekonomi Global Kuartal II


Fetry Wuryasti |

KUARTAL pertama sektor ekonomi global ditandai dengan tingginya gejolak di pasar keuangan. Pada kuartal kedua ini, ada beberapa indikator yang menjadi perhatian pasar.

Pengaruh pertama, sikap kebijakan bank sentral AS The Fed yang lebih hawkish. Lonjakan inflasi di awal tahun membuat The Fed memberikan signal kenaikan suku bunga yang lebih agresif. The Fed menyatakan bahwa tidak membatasi kemungkinan penaikan suku bunga lebih dari 25 basis poin dalam satu rapat dan menekankan ekonomi AS cukup kuat dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi.

"Hal ini mendorong ekspektasi pasar ke arah skenario yang lebih agresif. Ekspektasi pasar sudah memperkirakan penaikan suku bunga hingga mencapai 2,5% di akhir 2022," kata Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana, Minggu (24/4).

Imbal hasil surat utang US Treasury juga turut naik sempat menyentuh level 2,5%. Terakhir kali level tersebut terjadi di 2019. Saat itu suku bunga The Fed berada pada rentang 2,25% sampai dengan 2,5% dibandingkan level hari ini yang masih berada pada rentang 0,25% sampai 0,5%.

"Kondisi ini sebetulnya mencerminkan bahwa pasar sudah mengantisipasi dan bersiap dalam menghadapi penaikan suku bunga yang tinggi. Bila ternyata penaikan suku bunga lebih rendah dibandingkan ekspektasi, hal ini dapat memberikan kejutan positif bagi pasar keuangan," kata Krizia. Potensi moderasi pada pertumbuhan ekonomi AS dapat mengubah stance (pendekatan) Fed menjadi lebih akomodatif. 

Kedua, konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina. Eskalasi konflik ini sangat mengejutkan pasar, apalagi terjadi bersamaan dengan mulainya siklus pengetatan The Fed. Memperhitungkan peran Rusia dan Ukraina yang besar dalam rantai pasokan migas, metal, dan pangan dunia, dampak instan yang dirasakan lewat kenaikan harga komoditas dan inflasi.

Ketatnya pasokan di pasar komoditas sejak pandemi, ditambah lagi kekhawatiran disrupsi pasokan yang disebabkan oleh konflik ini, mendorong harga komoditas menyentuh level yang sangat tinggi. Dampak konflik ini pada setiap negara akan sangat berbeda, tergantung pada berbagai faktor, seperti posisinya sebagai net importir atau eksportir terhadap pangan dan energi. Itu tergantung pula besaran bobot pangan dan energi dalam keranjang inflasi serta posisi fiskal dan ruang kebijakan moneternya.

"Sejauh ini konflik masih berlangsung. Seberapa besar dampaknya tergantung pada durasi konflik dan dampak sanksi yang diberikan terhadap pertumbuhan global," kata Krizia.

Baca juga: Mayoritas Saham Global Tenggelam akibat Pernyataan The Fed

Ketiga, aksi jual yang terjadi kepada pasar saham Tiongkok. Pada kuartal kemarin, pasar saham Tiongkok mengalami pelemahan dibayangi beberapa faktor yang bersifat sementara, seperti melonjaknya kasus covid-19 yang memicu lockdown di beberapa kota yang strategis secara perekonomian. Konflik Rusia-Ukraina dikhawatirkan dapat berimbas terhadap kondisi geopolitik Tiongkok dan pengetatan aturan bagi saham Tiongkok yang listing di AS.

"Hal-hal inilah yang menekan pasar saham Tiongkok di kuartal kemarin. Namun on the positive note, saat ini pemerintah Tiongkok menekankan fokusnya untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dengan bantuan stimulus fiskal dan moneter. Pemerintah juga berkomitmen untuk mengurangi tindakan keras regulasi mendukung sektor properti dan teknologi," kata Krizia.

Setelah melalui kejutan dari berbagai dinamika global, saat ini volatilitas pasar mulai mengalami normalisasi, indeks volatilitas menurun, dan kinerja pasar saham global pun mulai membaik. Rapat Fed pada Maret menjadi titik balik. Kejelasan arah kebijakan Fed mengurangi liarnya spekulasi pasar. "Kami menilai bahwa faktor ketidakpastian yang disebabkan oleh perkembangan akhir-akhir ini berpotensi mengubah pendekatan bank sentral menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pengetatan moneter serta memberikan dukungan lebih lanjut terhadap perekonomian," kata Krizia. (OL-14)

BERITA TERKAIT