07 April 2022, 11:09 WIB

Pasar Menanti Langkah The Fed di Bulan Mei


Fetry Wuryasti |

Bulan Mei mungkin akan menjadi sebuah tanda dan babak baru dalam pengetatan kebijakan moneter AS, bahkan kemungkinan akan menjadi pengetatan kebijakan moneter terbesar sejak 1990.

"Dalam hal ini kami melihat bahwa yang menjadi perhatian adalah ketika The Fed menaikkan tingkat suku bunga dilakukan sembari mengurangi neracanya. Ini akan menjadi risiko dan tantangan yang lebih besar bagi The Fed, bahkan lebih besar dari invasi Rusia ke Ukraina yang mendorong kenaikkan harga," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (7/4).

The Fed harus berjuang untuk menaikkan suku bunga, setidaknya hingga akhir tahun ini untuk mengejar inflasi. Oleh karena itu besar kemungkinan mereka akan menaikkan tingkat suku bunga setiap pertemuan. Yang terpenting akan ada bobot besaran terkait dengan kenaikkan tingkat suku bunga The Fed.

Saat ini The Fed juga terus menerus berusaha untuk mengurangi neraca mereka yang sudah penuh, dan diperkirakan hal ini akan berjalan pada pertemuan bulan Mei mendatang. Menurut para pejabat, mereka akan mulai melakukan pengurangan dengan kecepatan maksimum yang berada di kisaran US$60 miliar dalam bentuk US Treasury dan US$35 miliar dalam sekuritas berbasis hipotek atau pinjaman.

Terakhir kali, penyusutan neraca dilakukan dari tahun 2017 – 2019 dengan besaran senilai US$50 miliar per bulan. Saat ini para pejabat mendukung pentahapan pembatasan tersebut lebih dari 3 bulan atau sedikit lebih lama apabila situasi dan kondisi pasar memungkinkan.

Namun beredar kabar, kalau The Fed itu telah memberikan isyarat untuk mengurangi neracanya senilai US$95 miliar per bulan. Hal ini tentu saja mengundang banyak tanda tanya, seberapa besar nantinya The Fed akan membuat keputusan untuk melakukan pengurangan.

Para Gubernur Bank Sentral di Amerika tampaknya akan mulai bergerak lebih cepat, karena invasi Rusia mendorong harga pangan dan energi melonjak. Apalagi Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell selalu mengatakan bahwa ketika prospek ekonomi mengalami perkembangan, tentu The Fed akan menyesuaikan kebijakan sesuai dengan kebutuhan.

Hal ini yang menuntut The Fed untuk bersikap fleksibel dalam menghadapi inflasi, menaikkan tingkat suku bunga, dan mengurangi neracanya.

"Oleh sebab itu, sebuah tindakan dan keputusan harus didasarkan kepada kehati-hatian, karena ketidakpastian akan berjalan beriringan dengan keyakinan," kata Nico.

Banyak pejabat yang melihat bahwa kenaikkan tingkat suku bunga pada bulan depan sebanyak 50 bps merupakan sesuatu yang sangat mungkin dilakukan apabila 25 bps belum cukup untuk mendorong inflasi.

Dukungan dari pejabat untuk menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 50 bps itu datang dari 16 pejabat yang meminta kenaikkan tingkat suku bunga lebih besar agar bisa mendorong dan mengendalikan inflasi.

Para pejabat melihat bahwa akan tepat untuk memindahkan sikap kebijakan moneter ke arah yang lebih netral secepatnya. Para pejabat juga akan mempertimbangkan dampak terhadap stabilitas dan volatilitas di pasar keuangan, karena gejolaknya akan merambat ke seluruh dunia, termasuk ke emerging market.

"Oleh karena itu, meskipun ada besaran yang didorong untuk naik lebih banyak, namun kami percaya bahwa The Fed juga tetap akan menaikkan dalam besaran yang dapat diterima oleh khususnya Bank Sentral lainnya di seluruh dunia," kata Nico.

The Fed memiliki target untuk menaikkan tingkat suku bunga hingga 2,1% pada tahun 2022. Namun berbicara titik netral, The Fed harus menaikkan tingkat suku bunga setidaknya hingga 2,4%, untuk menjadi titik netral tingkat suku bunga The Fed apabila dikalkulasikan dengan inflasi saat ini.

"Namun yang menarik adalah, tampaknya The Fed saat ini melihat bahwa mereka sudah ketinggalan jauh di belakang kurva, sehingga mau tidak mau, suka atau tidak suka, mereka seperti terburu buru untuk menaikkan tingkat suku bunga mereka untuk mengendalikan inflasi," kata Nico. (OL-12)

BERITA TERKAIT