05 April 2022, 12:35 WIB

The Fed Mencari Upaya Menuju Suku Bunga Netral


Fetry Wuryasti |

THE Fed dan pemangku kebijakan AS saat ini sedang berusaha untuk secara perlahan mengembalikan kebijakan moneter yang sebelumnya ultra longgar menuju ke tingkat mendekati normal.

Tujuan dari The Fed telah berubah karena medannya pun ikut berubah, ditambah dengan variabel x dari perang antara Ukraina-Rusia, sehingga mendorong The Fed terus maju dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Baca juga: Puan: Pemulihan Ekonomi Transisi Covid-19 Harus Dirasakan Rakyat

"Para pembuat kebijakan sampai dengan saat ini berbeda pendapat terkait dengan apa yang disebut tingkat suku bunga netral, sebuah tingkat atau level yang tidak membatasi atau memacu pertumbuhan ekonomi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Selasa (5/4).

Namun pengertian tersebut tidak memperhitungkan inflasi yang tinggi seperti sekarang. The Fed terlihat tidak yakin terkait dengan efek dari penghapusan stimulus ekonomi di tengah situasi dan kondisi saat ini. Apalagi perekonomian sudah terbiasa dengan tingkat suku bunga rendah.

Sehingga kata netral merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk ditetapkan secara pasti. Pelaku pasar dan investor khawatir bila The Fed salah dalam mengambil kebijakan, baik menaikan tingkat suku bunga mendorong perekonomian Amerika menuju resesi atau membiarkan inflasi berakhir dengan sendirinya.

Beberapa kepala ekonomi di luar negeri seperti Lindsey Piegza mengatakan risiko kontraksi ekonomi akan terjadi dalam kurun waktu 21 bulan ke depan, karena The Fed menaikan tingkat suku bunga, memperketat kredit, dalam perekonomian yang melambat.

Dalam kurun waktu 35 tahun terakhir, perekonomian selalu goyah setiap kali The Fed mencapai atau melebihi target yang dinamakan netral. Apalagi kurva terbalik inverted yield mulai terjadi, dimana imbal hasil obligasi jangka pendek saat ini sudah mulai terlihat lebih tinggi daripada obligasi jangka panjang.

Apabila tanda tanda itu terjadi, maka perekonomian di Amerika berpotensi memasuki masa resesi dalam kurun waktu 2 tahun mendatang. Ini sejalan dengan proyeksi yang disampaikan oleh Lindsey. Seperti kejadian di Amerika dahulu yang mulai ada tanda inverted yield 2006, 2007, dan kejadian pada tahun 2008. Situasi dan kondisi seperti apapun dapat berubah dengan cepat, dan indikator mulai dinyalakan.

"Sehingga kami melihat, soft landing ini akan menjadi sangat sulit, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan,"

Dalam pidato tahunan pada tahun 2018, Gubernur Bank Sentral AS The Fed Jerome Powell pernah membahas mengenai variable R atau tingkat netral. Tingkat netral ini bukan sesuatu yang pasti dan dapat di revisi. Nama lainnya adalah The Phantom Menace, julukan yang diberikan oleh Presiden Fed St. Louis James Bullard.

Variable ini dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak pasti seperti demografi, ketidaksetaraan, tabungan, ekspektasi inflasi, produktivitas, dan struktur pasar tenaga kerja yang dapat dikatakan variabel bebas sehingga sulit untuk mengukurnya secara real time.

Terkait data ketenagakerjaan, The Fed diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga yang lebih besar pada Mei mendatang karena laporan ketenagakerjaan di Amerika telah menambahkan 431.000 pekerjaan pada bulan Maret, sehingga tingkat pengangguran menjadi turun menjadi 3,6% mendekati level terendah sebelum pandemi.

Yang dikhawatirkan dari aksi The Fed terhadap suku bunga adalah perekonomian akan berhenti bertumbuh, menahan ekonomi, dan justru malah jadi memperlambat pertumbuhan.

Sejauh ini para pembuat kebijakan telah hampir mendekati kata sepakat untuk kenaikan 50 bps pada bulan Mei 2022. Para pembuat kebijakan sepakat bahwa tingkat suku bunga saat ini masih jauh dari kata netral karena inflasi terlalu tinggi.

"Hitungan kami, berdasarkan SEP, tingkat suku bunga saat ini dapat dikatakan netral apabila berada di kisaran 2% - 3%, dengan titik median berada di 2,4%," kata Nico.

Belum lagi hal ini semakin dipersulit karena The Fed ingin mulai mengurangi neraca sebesar US $8,9 triliun dalam beberapa bulan mendatang. The Fed melihat saat ini pengetatan moneter perlu dilakukan, namun ada risiko yang harus dibayar.

Saat ini yang menjadi perhatian adalah bukan lagi tentang kenaikan atau penurunan tingkat suku bunga The Fed, namun lebih kepada bagaimana situasi dan kondisi yang akan timbul setelah The Fed menaikan tingkat suku bunga dan dampaknya terhadap harga saham, obligasi dan asset lainnya.

Perubahan tingkat suku bunga diperkirakan akan berdampak terhadap kemampuan dan keinginan konsumen dan perusahaan untuk konsumsi dan belanja. Saat ini pasar keuangan diperkirakan akan bisa melemah lebih lanjut sebagai bagian dari meningkatnya tingkat suku bunga, gangguan pasokan yang terjadi, dan hal ini diyakini mungkin akan menghiasi situasi dan kondisi di masa yang akan datang.

"Saat ini menurut kami pasar mulai terbiasa dengan tingkat kebijakan moneter ultra longgar, dan tatkala tingkat suku bunga rendah, justru malah mendorong inflasi dan konsumsi terus meningkat," kata Nico.

Hal ini yang membuat The Fed juga harus bergerak, karena perang antara Ukraina dengan Rusia juga belum usai, sehingga tekanan inflasi akan semakin lebih besar daripada sebelumnya.

"Kami melihat bahwa meskipun variable R belum pasti, namun apa yang dilakukan oleh The Fed sudah berada di jalan yang benar, keputusan yang benar untuk mendorong perekonomian lebih stabil dan mature. Perubahan dari ultra longgar menjadi netral tentu bukan perkara yang mudah, namun kami percaya bahwa The Fed akan mampu melewatinya," kata Nico. (OL-6)

BERITA TERKAIT