05 April 2022, 08:48 WIB

Produk Porang Bisa Menjadi Pangan Alternatif


mediaindonesia.com |

MEMASUKI bulan suci Ramadan, pemenuhan kebutuhan nutrisi di dalam tubuh saat mengonsumsi makanan patut menjadi perhatian. Hal ini agar tubuh tetap sehat dan fit menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Salah satu yang direkomendasikan ialah jenis umbi-umbian yang sedang digemari masyarakat, yakni porang. Tanaman porang juga dikenal di Indonesia dengan nama iles-iles. Makanan ini disebut kaya manfaat dan punya kandungan nutrisi yang sangat istimewa.

Menurut ahli gizi dr Arif Sabta Aji SGz, ubi porang memiliki manfaat yang lain daripada yang lain. Pasalnya, ubi porang memiliki serat larut air glukomanan.

"Glukomanan yang ada di ubi porang bisa mencapai 40 sampai 60%. Serat larut air dalam ubi porang ini dapat mencegah berbagai penyakit dalam jangka waktu panjang. Contohnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penumpukan lemak," kata Arif dalam program Nunggu Sunset Media Indonesia, Sabtu (2/4).

Baca juga: Harga Cabai di Depok Makin Liar di Awal Bulan Ramadan

"Kalau kita mengonsumsi makanan yang banyak mengandung sumber serat, itu bisa menyehatkan saluran pencernaan kita dan memengaruhi kadar profil lemak dalam tubuh kita," tambahnya.

Selain itu, produk ubi porang, baik itu beras atau mi shirataki atau jeli konnyaku, bisa menjadi salah satu alternatif bahan makanan fungsional yang memiliki dampak kesehatan untuk penderita diabetes melitus. 

"Di masyarakat Indonesia itu semakin hari semakin meningkat prevalensi penyakit diabetes melitusnya karena konsumsi makanan kita setiap hari nasi," jelasnya.

Perusahaan pelopor produk olahan porang di Indonesia adalah PT Ambico yang berdiri sejak 1971. Ambico dikenal dengan produk beras konnyaku dan shirataki.

Presiden Direktur PT Ambico Johan Soedjatmiko Ishii menjelaskan bahwa porang merupakan bahan baku dari makanan tradisional di Jepang, yakni konnyaku atau shirataki. "Di Indonesia bagaikan tahu dan tempe," katanya dalam kesempatan yang sama.

Tanaman ini sendiri di Indonesia ditemukan oleh kakek Johan yang juga pendiri PT Ambico, Masaharu Ishii. "Ketika kakek saya pertama kali menemukan ubi porang, beliau merasa ingin membuat sesuatu produk yang bisa mengenang makanan tradisional di kampung halamannya," tuturnya.

Saat itu, Masaharu terkagum-kagum karena porang di Indonesia memiliki keistimewaan tersendiri. Menurut Johan, ubi porang Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dari porang pada umumnya di Jepang.

"Contohnya dia punya kelebihan bibitnya tumbuh di atas, bukan di bawah. Kedua, dia tidak memiliki bau, sedangkan porang yang di Jepang atau China berbau amis. Jadi untuk aplikasi ke makanan, ke farmasi, itu lebih gampang diaplikasikan," jelasnya.

Ambico sendiri ingin memperkenalkan konnyaku kepada masyarakat Indonesia sebagai pilihan pangan yang lebih sehat. 

"Kita tidak mengubah pola makan yang pada dasarnya masyarakat Indonesia suka makan nasi atau mi lebih banyak, tapi mie dan nasinya bisa disubstitusi dengan shirataki atau konnyaku," paparnya.

Dia melihat masyarakat Indonesia sudah mulai sadar akan hal itu. Johan menyebut bahwa sejak 2020 produksi Ambico untuk dalam negeri sudah melebihi ekspor.

"Sekarang 60% lokal, 40% ekspor. Masyarakat Indonesia menurut saya mulai mengerti tentang makan sehat dan pola hidup sehat. Semoga 5-6 tahun ke depan masyarakat Indonesia jadi lebih sehat," paparnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB Prof Dr Edi Santosa menjelaskan, iles-iles atau porang merupakan pangan masa depan. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi, yakni sisi manfaat dan budidaya.

Dari sisi budidaya, porang relatif mudah karena merupakan tanaman hutan sehingga mudah tumbuh. Bahkan kita menganggap ini tanaman yang cocok untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Tantangannya adalah bagaimana membuat produk iles-iles atau porang itu sehat. "Ini makanan sehat, tapi untuk mengambil sehatnya itu harus ada proses. Oksalat-nya harus kita buang dulu, pengotor-pengotor yang lain harus kita buang dulu," pungkasnya. (Ifa/S2-25)

BERITA TERKAIT