31 March 2022, 13:27 WIB

Dampak dan Biaya dari Kejahatan Lingkungan Naik 5-7 Persen Setiap Tahun


Insi Nantika Jelita |

TINDAK kejahatan lingkungan diprediksi terus meningkat dengan tidak mengenal batas negara atau borderless. Ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam PPATK 3rd Legal Forum, Kamis (31/3).

Kejahatan lingkungan yang dimaksud seperti pembalakan liar atau illegal logging, illegal fishing dan pertambangan tanpa izin atau illegal mining.

"Yang cukup mengkhawatirkan dampak dan biaya dari kejahatan lingkungan ini setiap tahun naik 5-7%, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi," kata perempuan yang karib disapa Mbak Ani.

Kejahatan lingkungan yang terjadi, menurutnya, tidak hanya dilakukan oleh oknum di satu wilayah atau negara saja. Misalnya, aktivitas illegal loging dilakukan di negara A, lalu penadahnya atau orang yang menerima barang-barang curian itu berada di negara B dan di negara C dan terjadi pencucian uang.

"Kejahatan ini tidak ada batas negara atau borderless," kata Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Dia berujar, kegiatan yang merusak lingkungan itu menghasilkan uang dengan jumlah besar lewat money laundry atau pencucian uang yang dilakukan pengusaha atau oknum tidak bertanggung jawab.

Tentu hal tersebut menyebabkan kerugian bagi negara.

"Jadi sebuah kerugian negara tidak hanya dari sisi keuangan saja, tapi dari kerusakan lingkungan karena begitu besarnya kerusakan yang diakibatkan dari kejahatan lingkungan," sebutnya.

Baca juga:  PPATK: Pajak Karbon Rawan Pencucian Uang dan Korupsi

Mbak Ani pun menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam mengawasi kejahatan lingkungan ini, seperti forum kerja sama Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF).

FATF merupakan forum antarnegara yang menetapkan standar global rezim antipencucian uang dan pendanaan terorisme, serta hal-hal lain yang mengancam sistem keuangan internasional.

"FATF menyampaikan bahwa para pelaku kejahatan lingkungan mencuci hasil kejahatan mereka melalui sektor keuangan. Sektor keuangan itu bisa formal dan informal," pungkasnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT