31 March 2022, 11:18 WIB

Konflik Rusia Ukraina Berimbas Terhambatnya Pasokan


Fetry Wuryasti |

Jelang Ramadan kepastian stok bahan pangan menjadi hal yang cukup krusial, sebagaimana kebutuhan yang meningkat.

Ketidakpastian pasokan imbas perang Rusia – Ukraina di mana kedua negara tersebut merupakan penghasil sejumlah komoditas dan bahan pangan seperti migas, minyak sunflower, gandum, jagung, pupuk memberikan kekhawatiran terhadap pasokan global terutama bagi negara pengimpor komoditas dan bahan pangan tersebut di atas.

"Dampaknya, harga sejumlah komoditas menjadi meningkat. Tak hanya itu, tiap negara yang mengamankan pasokan dalam negerinya untuk jangka panjang demi terjaganya kebutuhan masyarakat dan industri, tak terkecuali Indonesia," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (31/3).

Kekhawatiran imbas perang yang masih berlangsung, diperkuat dengan pernyataan Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP), David Beasley, bahwa konflik telah menyebabkan kekurangan pangan dan lonjakan harga yang melampaui terhadap yang terlihat sejak Perang Dunia II.

Dampak dari kenaikan harga makanan, bahan bakar dan pengiriman imbas konflik Rusia-Ukraina tersebut berpotensi meningkatkan pengeluaran bulanan Program Pangan Dunia sebesar US$71 juta atau US$852 juta dalam setahun yang dapat menjangkau jutaan jiwa di Ukraina.

Merespon hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) membentuk tim pengawalan dan monitoring terhadap ketersediaan bahan pangan selama Ramadan hingga Lebaran. Tak hanya ketersediaan, namun juga harga bahan pokoknya, terutama terhadap 12 komoditas utama.

Neraca pangan nasional hingga Mei 2022 menunjukkan untuk beberapa komoditas seperti beras, jagung dan kedelai masih diperkirakan surplus masing-masing sebesar 8,7 juta ton, 3,2 juta ton dan 142,307 ton. Tak hanya itu, impor komoditas perlu didorong realisasinya di mana turut mendukung cadangan kebutuhan dalam negeri.

Meski demikian realisasi produksi dalam negeri menjadi tantangan yang perlu terus dipantau. Namun, pengadaan jangka panjang sebagai antisipasi ketidakpastian menjadi strategi untuk mengamankan produksi sejumlah bahan baku dalam negeri.

"Kami melihat bahwa ketersediaan pangan memegang peranan penting terlebih memasuki bulan Ramadhan. Memang lonjakan harga akan cukup terasa, terlebih ketersediaan pasokan yang terganggu," kata Nico.

Namun, tingkat konsumsi masyarakat berpotensi lebih baik. Hanya saja, diperkirakan diikuti oleh percepatan kenaikan inflasi. Terpantau sektor consumer non cyclical mencatatkan return sebesar 1,84% per 30 Maret 2022 atau tertinggi kedua setelah sektor teknologi. (OL-12)

BERITA TERKAIT