22 March 2022, 19:57 WIB

Penaikan Suku Bunga The Fed Diprediksi Hingga 7 Kali


Mediaindonesia.com |

Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed akan menaikkan suku bunga tujuh kali pada 2022, meningkat dari proyeksi sebelumnya yang sebanyak lima kali. 

Kemudian kemungkinan The Fed akan kembali menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali pada tahun 2023.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Selasa (22/3), menjelaskan, saat ini otoritas moneter AS telah menyatakan bunga acuan akan dinaikkan lebih besar dan lebih banyak dibandingkan perkiraan sebelumnya, karena tingginya inflasi di AS. Pada bulan ini, The Fed sudah mulai meningkatkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps).

Normalisasi kebijakan moneter, kata Perry, menjadi salah satu aspek yang perlu dilihat pengaruhnya terhadap perekonomian global, terutama kepada negara berkembang termasuk Indonesia.

"Yang perlu diperhatikan adalah pengaruhnya terhadap aliran modal asing, khususnya investasi portofolio dan bagaimana pengaruhnya terhadap nilai tukar rupiah," kata Perry.

Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas perekonomian untuk membawa pemulihan lebih lanjut. Kenaikan suku bunga The Fed saat ini menjadi salah satu faktor kemungkinan revisi turun perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini, yang awalnya BI perkirakan sebesar 4,4 persen. Selain itu, terdapat pula faktor lainnya yakni belum meratanya vaksinasi dan eskalasi geopolitik Rusia dan Ukraina

Burden Sharing Berakhir

Perry juga mengatakan, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana oleh BI dalam rangka membantu pemerintah dalam pendanaan APBN akan berakhir pada tahun 2022. Langkah berbagi beban atau burden sharing ini berjalan sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Keuangan dan Gubernur BI.

“Burden sharing berakhir tahun ini. Tahun depan (2023) tidak ada lagi pembelian di pasar perdana,” kata Perry.

Perry menegaskan, burden sharing ini merujuk Undang-Undang (UU) no. 2 tahun 2020. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah menyusun exit strategy dan rencana normalisasi.

Sepanjang tahun 2021, BI sudah melakukan pembelian SBN di pasar perdana untuk pendanaan APBN 2021 sebesar Rp 358,32 triliun, terdiri dari pembelian SBN sebesar Rp 143,32 triliun berdasarkan SKB I serta Rp 215 triliun untuk pembiayaan kesehatan sesuai dengan SKB III.

Sedangkan di tahun 2022, hingga 15 Maret 2022, BI sudah membeli SBN di pasar perdana sebesar Rp 8,76 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional dan pembelian dilakukan lewat mekanisme lelang utama dan greenshoe option (GSO). (Try/E-1)

BERITA TERKAIT