18 March 2022, 14:57 WIB

Pengamat: Dicabutnya Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Kemasan Tak Efektif


 Yakub Pryatama Wijayaatmaja |

PEMERINTAH menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah Rp14 ribu. Tak hanya itu, pemerintah mengembalikan harga minyak goreng kemasan ke nilai keekonomian dan memberikan subsidi untuk minyak goreng curah yang berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).   

Menanggapi kebijakan itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai minyak goreng kemasan yang sudah mahal ke depannya akan semakin mahal. Hal itu seiring dengan harga bahan baku crude palm oil (CPO) yang naik.

"Ini juga menunjukkan ketidakmampuan pemerintah mengendalikan harga migor dan tidak efektifnya kebijakan HET yang sempat diterapkan sejak awal Februari 2022 lalu," tuturnya, Jumat (18/3).

"Konsekuensinya inflasi yang didorong oleh kenaikan harga migor akan naik," tegasnya.

Maka, menurutnya, pemerintah harus bisa menjaga akses minyak goreng di level ekonomi kelas bawah dan usaha mikro dan UKM penting.

Baca juga: Komisi VI DPR Pertanyakan Kinerja Kemendag Tangani Kelangkaan Minyak Goreng

"Setidaknya dengan HET di minyak curah, maka akses masyarakat ekonomi kelas bawah di pasar-pasar tradisional diharapkan akan lebih mudah teratasi," ungkap Eko. 

Namun, Eko memberi catatan pemerintah harus memastikan terlebih dahulu pabrik-pabrik minyak goreng mendapatkan suplai CPO yang cukup dari industri CPO lalu mereka segera distribusi ke pedagang.

"Selain itu pengawasan agar migor curah segera masuk ke pasar tradisional penting dilakukan," terangnya.

"Kedua, tidak ada kebocoran minyak curah dijual ke tempat lain ataudiselundupkan, masuk ke industri minyak kemasan. Karena ada selisih yang tinggi antara yang dikemas dengan yang curah," ungkapnya.

Jika pengawasan jebol, Eko menyebut minyak curah akan tetap langka di pasar-pasar tradisional. (Ykb/OL-09)

BERITA TERKAIT