17 March 2022, 17:05 WIB

BI Pastikan Penaikan GWM tidak Ganggu Likuiditas Perbankan


M. Ilham Ramadhan Avisena |

GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan normalisasi kebijakan lewat penaikan Giro Wajib Minimum (GWM) tak akan mengganggu kondisi likuiditas perbankan. 

Diperkirakan, likuiditas perbankan yang terserap akibat kenaikan GWM bakal mencapai Rp156 triliun pada 2022. "Jumlah itu berasal dari penyerapan likuiditas karena kenaikan GWM sebesar Rp193 triliun," ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (17/3).

Baca juga: BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan

"Pada saat yang sama, BI juga memberikan insentif penurunan GWM kepada bank yang menyalurkan kredit kepada 38 sektor prioritas, yaitu Rp37 triliun. Secara neto di 2022, kenaikan GWM menyerap likuiditas Rp156 triliun," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan kenaikan GWM dilakukan bertahap oleh Bank Sentral. Hal itu juga diyakini tidak akan menggangu upaya perbankan dalam penyaluran kredit, maupun partisipasi dalam pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Baca juga: Softbank Cabut dari Proyek IKN, Luhut Bidik Investor dari Arab Saudi

Sebab, BI memperkirakan alat likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan masih akan tinggi di level 31,5% hingga akhir tahun. Angka itu jauh lebih tinggi dari kondisi rasio alat likuid per DPK 2019 yang hanya 21%.

"Kenaikan GWM tidak memengaruhi kemampuan perbankan menyalurkan kredit. Karena alat likuid per DPK di perbankan masih sangat tinggi," jelasnya.(OL-11)
 

BERITA TERKAIT