10 March 2022, 22:20 WIB

Bank BJB terus Bertransformasi


Bayu Anggoro |

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. (Bank BJB) terus menancapkan pengaruhnya menjadi bank besar di Indonesia.
Berbagai program jangka menengah dan panjang tengah dirancang untuk
menjadi raksasa BPD di Indonesia.

Hal itu disampaikan jajaran Direksi Bank BJB saat hadir menjadi
pembicara live Youtube Mirae Asset "Kamu Beli Saham Apa", Kamis (20/3).

Hadir Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi, Direktur Keuangan Nia Kania, dan Direktur Information Technology, Treasury & International
Banking Rio Lanasier.

Dalam paparannya, Yuddy menyebut, saat ini Bank BJB  terus menggenjot
pendapatan utama baik dari segmen konsumer, korporasi, UMKM, komersial,
dan lainnya. Pihaknya juga terus melakukan penetrasi keuntungan dari fee based income layanan digital.

"Kami ke depan juga ada rencana yang saat ini sedang intense dibicarakan dengan BPD lain. Ini seiring ketentuan terbitnya POJK bahwa BPD harus memiliki modal inti harus minimal Rp3 triliun. Kalau tidak terpenuhi, akan turun kelas. Namun dari POJK ini ada esepsi, bahwa BPD bisa berkumpul atau membuat KUB (Kelompok Usaha Bank)," katanya.

KUB ini nantinya akan membawa BJB menjadi holding BPD. Saat ini
sudah ada 5 BPD yang intense berkomunikasi dengan pihaknya.

"KUB ini akan menjadi fokus kami, terutama dalam pemanfaatan
digitalisasi oleh BPD lainnya, " kata Yuddy.

Menurut dia, BJB telah menyiapkan capital expenditure (Capex) hingga Rp500 miliar untuk memperkuat digitalisasi layanan keuangan.

Perseroan berkomitmen tidak pelit belanja sarana information technology (IT). Apalagi, digitalisasi adalah keniscayaan sesuai  kebutuhan zaman yang serbacepat dan mudah.

Tak hanya itu, Bank BJB juga terus memperkuat layanan keuangan dari sisi pembiayaan. Misalnya BJB Indah (infrastruktur daerah), yang memfasilitasi pinjaman modal bagi pemerintah daerah. Pemda bisa mendapat pinjaman secara mudah untuk membiayai pembangunan infrastruktur daerah.

"Banyak pemerintah daerah yang berminat mendapat pembiayaan BJB Indah ini. Tidak cuman pemda di Jabar dan Banten, tapi pemda lainnya juga sangat berminat. Bahkan, untuk program ini Non Performing Loan (NPL)-nya 0, artinya sangat bagus kinerjanya," bebernya.

Menurut dia, bank yang berkantor pusat di Kota Bandung ini juga memiliki program BJB Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera). Program pembiayaan bagi ultra mikro yang tidak bankable namun ingin memajukan usahanya.

BJB Mesra adalah fasilitas kredit tanpa bunga dan agunan. Namun hanya
bisa diakses oleh komunitas di rumah ibadah.

"Target perseroan ke depan ialah mencatat pertumbuhan hingga double digit. Kami akan menjadi elit bank, yaitu menjadi tuan rumah di wilayah kita sendiri. Intinya bagaimana kita kolaborasi dan open minded. Termasuk bagaimana kita juga berupaya penuhi kebutuhan milenial," katanya.

Kelompok Usaha Bank


Terkait KUB, Direktur Keuangan Nia Kania mengatakan, secara potensi BPD
di Indonesia memiliki nilai aset yang cukup besar. Jika BPD ini menjadi
satu kesatuan, akan menjadi entitas bisnis yang cukup besar.

Secara aset, BPD di Indonesia mencapai lebih dari Rp800 triliun.
"Setelah KUB ini terbentuk, banyak kerja sama yang bisa dibangun. Antar BPD bisa kerja sama SDM, jaringan kantor, treasure, kredit,
dan lainnya. Ini potensinya luar biasa besar, " kata dia.

Sementara itu, Direktur Information Technology, Treasury & International Banking Rio Lanasier mengatakan, Bank BJB sedang
menggagas terbangunnya super apps. Rencananya dalam waktu dekat akan
segera diluncurkan.

"Super apps ini nantinya menjawab kebutuhan konsumen yang kian besar.
Super apps ini satu aplikasi untuk semua layanan keuangan. Aplikasi ini
juga nantinya akan memudahkan digitalisasi pada KUB," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT