10 March 2022, 15:30 WIB

Inflasi Januari AS 7,5% Batasi Penaikan Suku Bunga The Fed


Fetry Wuryasti |

INFLASI tahunan AS telah terakselerasi ke level 7,5% pada Januari 2022. Ini tertinggi dalam 40 tahun terakhir sejalan dengan melonjaknya harga energi, kurangnya tenaga kerja, gangguan pasokan yang terjadi, serta tingginya tingkat permintaan.

"Biaya energi, terutama gasoline yang mengalami kenaikan harga hingga 40%, berkontribusi paling besar (27%) terhadap inflasi AS. Ditambah, Presiden AS baru saja menandatangani Executive Order (OE) yang melarang impor minyak, LNG, dan batu bara dari Rusia sebagai sanksi untuk memaksa Rusia menghentikan agresi militernya terhadap Ukraina," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (10/3).

Tahun lalu, AS mengimpor hampir 700 ribu barel minyak per hari (setara dengan 3% dari 7% total ekspor Rusia) termasuk produk minyak olahan. Embargo minyak dan gas tentu menekan pendapatan Rusia dari minyak dan gas yang merupakan sumber pendapatan utamanya.

Tak hanya AS, aliansi negara barat lain seperti Inggris tengah meninjau rencana untuk menghentikan impor gas dari Rusia yang menyumbang sekitar 4% dari pasokan diikuti dengan rencana strategis terhadap pasokan energi baru. Upaya pemboikotan ini berpotensi semakin mengerek harga minyak yang lebih tinggi dan mengangkat naik tingkat inflasi. Terlebih, perusahaan minyak swasta seperti BP dan Shell akan mensuspensi aktivitas bisnis dengan Rusia melalui penghentian semua pembelian minyak mentah dan menutup layanannya di Rusia.

Merespons eskalasi konflik yang masih belum mencapai titik temu tersebut, Bank Sentral AS The Fed masih terus memantau perkembangan atas kondisi yang terjadi. Konflik dapat mendorong resesi global dan menyesuaikan kebijakannya dalam merendam inflasi yang terus tumbuh.

Baca juga: IHSG Februari Naik 3,9% Didorong Aksi Beli Asing Rp16,1 Triliun

Rencana The Fed yang sebelumnya akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) sebesar 50 bps pada Maret 2022 disinyalir turun menjadi 25 basis poin kenaikan seiring dengan potensi resesi global akibat gangguan pasokan dan melesatnya harga komoditas. Inflasi yang semakin meningkat memang menunjukkan kondisi ekonomi yang menggeliat. Hanya inflasi perlu dijinakkan sebab berpengaruh terhadap sendi-sendi ekonomi seperti kenaikan beban lebih berat yang harus ditanggung atas bunga KPR, pinjaman, hingga pendanaan modal kerja akan lebih besar. (OL-14)

BERITA TERKAIT