07 March 2022, 11:52 WIB

Perang Jatuhkan Saham tetapi Minyak dan Emas Meroket


Mediaindonesia.com |

PASAR ekuitas jatuh pada Senin (7/3). Namun harga minyak melonjak mendekati level tertinggi dalam 14 tahun dan emas sebagai investasi menembus harga US$2.000 karena investor semakin takut tentang dampak perang Ukraina terhadap ekonomi global.

Lantai perdagangan menjadi lautan merah di bursa awal dengan para ahli memperingatkan periode stagflasi dengan lonjakan minyak mentah yang kemungkinan menyalakan api di bawah inflasi yang sudah tinggi. Komoditas tersebut meroket hampir 18% menjadi US$139,13--tingkat yang tidak terlihat sejak pertengahan 2008--setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan Gedung Putih dan sekutunya sedang dalam pembicaraan tentang pelarangan impor dari Rusia.

Dengan pelarangan bagi negara produsen minyak terbesar ketiga tersebut, langkah seperti itu akan menambah krisis pasokan tepat saat permintaan meningkat. Komoditas lain yang bersumber dari daerah seperti gandum dan logam juga naik tajam.

Mike Muller dari Vitol memperingatkan 'rasa sakit' lebih lanjut. "Kita memiliki banyak tikungan dan belokan yang akan datang," katanya dalam podcast yang diproduksi oleh konsultan dan penerbit Gulf Intelligence yang berbasis di Dubai.

"Sementara saya pikir dunia sudah memperhitungkan fakta bahwa akan ada ketidakmampuan untuk mengambil sejumlah besar minyak Rusia di belahan bumi barat. Saya rasa kita belum menetapkan harga dalam segala hal."

Pemerintahan dunia sampai sekarang tidak memasukkan minyak Rusia dalam sanksi luas mereka di Moskow karena kekhawatiran tentang dampaknya terhadap harga dan konsumen. Meskipun demikian perdagangan menjadi semakin sulit karena bank menarik pembiayaan dan biaya pengiriman meningkat.

Lonjakan minyak mentah membuat bank sentral pusing karena mereka mulai memperketat kebijakan moneter era pandemi untuk memerangi inflasi, yang sudah mencapai level tertinggi 40 tahun di Amerika Serikat. Dana Moneter Internasional memperingatkan pada akhir pekan bahwa perang dan sanksi terhadap Rusia akan memiliki dampak parah pada ekonomi global.

Pada hari ini, bursa Asia berada jauh di zona merah dengan Hong Kong pada satu titik kehilangan lebih dari 4%. Bursa Tokyo dan Taipei turun lebih dari 3%.

Seoul dan Manila keduanya turun lebih dari 2%. Shanghai, Sydney, dan Wellington turun lebih dari 1%. Kerugian besar juga terjadi di Singapura dan Jakarta. Bursa AS turun tajam.

 
Kepanikan di lantai perdagangan mengirim tempat berlindung yang aman naik tajam yaitu emas--tujuan utama di saat krisis dan gejolak--sehingga mengerak harga mencapai US$2.000,86, tertinggi sejak pertengahan 2020. Dolar juga naik terhadap sebagian besar mata uang lain. (AFP/OL-14)
 
BERITA TERKAIT