17 February 2022, 09:00 WIB

Antisipasi Perubahan Iklim, Kementan Latih Sejuta Petani dan Penyuluh


Dede Susianti |

KEMENTRIAN Pertanian (Kementan) kembali menggelar pelatihan bagi petani dan penyuluh di seluruh Indonesia. Pelatihan gelombang kedua ini akan dilaksanakan mulai 23 Februari 2022 hingga 17 Maret 2022.

Kali ini fokus pelatihan pada bagaimana mempersiapkan para petani dan penyuluh di Indonesia menghadapi, antisipasi dan menyelesaikan masalah atas perubahan iklim yang mengancam.

Pelatihan melalui BPP Kostratani sebagai Learning Center ini pun mengambil tema "Adaptasi dan Mitigasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim".

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, perubahan iklim berdampak besar pada pertanian dan dampak perubahan iklim merupakan tantangan yang sangat besar di sektor pertanian.

“Salah satu solusi yang bisa diambil adalah dengan menggunakan teknologi pengelolaan iklim dan sumber daya air untuk adaptasi perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut Mentan SYL, pelatihan ini bisa dijadikan sebagai sarana transfer ilmu dan pelatihan tersebut juga akan memberikan kepercayaan diri untuk melaksanakan implementasi penerapan teknologi pertanian.

“Termasuk cara baru bertani, menggunakan sistem pertanian digital, dan smart farming. Melaksanakan kegiatan tersebut tentu tidak mudah, namun Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP harus terus melakukan pelatihan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dalam kondisi cuaca yang sangat ekstrim ini. Oleh karena itu, BPPSDM dan Litbang harus turun ke lapangan membantu petani dan penyuluh,” ujarnya.

Untuk menyukseskan pelatihan, sosialisasi terus dilakukan oleh BPPSDMP melalui UPT Diklat Pertanian untuk wilayah kerjanya masing-masing, terutama untuk menjangkau jumlah peserta melalui pendaftaran online.

Mentan SYL juga menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong inovasi pertanian agar mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Ia berharap pelatihan tersebut akan menghasilkan inovasi dalam rangka implementasi adaptasi dan mitigasi iklim.

“Khususnya untuk mengantisipasi perubahan iklim ekstrim yang terjadi di Indonesia. Kita memiliki sifat yang baik dan banyak keterampilan dan harus terus kita tingkatkan semuanya,”tutupnya.

Sementara itu, dalam jumpa pers yang digelar secara daring, Rabu (16/2) kemarin, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan Indonesia saat ini sedang dilanda perubahan iklim ekstrem dan masih masa pandemi covid-19.

“Ini berdampak pada sendi-sendi kehidupan kita yang benar-benar terpuruk,”katanya.

Dalam kondisi demikian, Kementerian Pertanian harus tetap menjaga bagaimana caranya produktivitas dan produksi pertanian terus meningkat. Karena, tidak mungkin jika produktivitas turun kita bisa eksis. Mau tidak mau, siap tidak siap, suka tidak suka, produktivitas harus naik. Solusinya adalah smart farming dan digitalisasi pertanian," katanya.

Dedi Nursyamsi menegaskan, pelatihan sejuta petani dan penyuluh adalah merupakan program reguler maksimum yang harus kita sukseskan dalam rangka meningkatkan pengetahuan petani dan penyuluh.

"Pelatihan sejuta petani dan penyuluh merupakan simbol yang artinya Kementan melakukan pelatihan yang massif di seluruh tanah air. Tujuan dan harapannya adalah untuk mendorong terimplementasinya pertanian berkelanjutan," katanya.

Peserta pelatihan ditargetkan sebanyak 1,568,483 orang terdiri dari petani dan Insan pertanian lainnya sejumlah 1.500.000 dan penyuluh pertanian sebanyak 68.483 orang.

Pelatihan akan melibatkan petani, P4S, IKAMAJA, KTNA, DPM/DPA, penyuluh dan insan pertanian lainnya yang akan dilaksanakan oleh 10 UPT pelatihan pertanian pusat.

Pelaksanaan pelatihan akan dilakukan secara offline di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan dan akan di-relay di UPT pelatihan lainnya denganBMetode online dan offline. Sedangkan Pelaksanaan Pelatihan di UPT BBPP Batu dan BBPP Binuang dilaksanakan secara Online Mandiri dilakukan bertahap mulai tanggal 28 Februari - 17 Maret 2022

Di tempat yang sama, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementan Leli Nuryati menjelaskan secara detil teknis pelatihan. Dia menyebut, kurikulum pelatihan tetap mengikuti kaidah pelatihan dengan total 24 jam pelajaran (5 jam teori dan 19 jam pelajaran praktek) meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang.

Diakhir pelatihan peserta akan membuat tugas mandiri membuat rencana kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Peserta yang mengikuti pelatihan juga akan mendapat sertifikat yang ditandatangani oleh Menteri Pertanian.

Pada pelaksanaannya link zoom sentral akan disiapkan oleh BBPP Ketindan, dan masing masing UPT membuat link zoom untuk sasaran peserta yang menjadi tanggungjawabnya dengan melakukan relay ke link zoom BBPP Ketindan.

Lokasi Pelatihan dapat dilakukan di BPP Kostratani, Posluhdes, P4S, Saung Tani, Gapoktan, Poktan atau lokasi lainnya yang berdekatan dengan domisili para peserta. (OL-13)

Baca Juga: Mengemas Pangan Marginal di Pasar Digital

BERITA TERKAIT