16 February 2022, 20:48 WIB

Begini Strategi Media Group Hadapi Krisis Akibat Pandemi 


Faustinus Nua |

HAMPIR semua sektor mengalami krisis akibat pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama 2 tahun ini. Di sektor bisnis, dampak pandemi memang sangat buruk bila tidak dihadapi dengan strategi yang tepat. 

CEO Media Group, Mohammad Mirdal Akib mengakui krisis saat ini merupakan pertama kalinya yang belum pernah dilalui perusahaan besar selama 10, 20, 30 tahun terakhir. Transformasi teknologi digital yang sebelumnya dapat diprediksi, justru berubah begitu cepat. Terjadi disrupsi yang sangat drastis. 

"Dua tahun terakhir kita mengalami turbulensi yang cukup luar biasa. Tidak ada dari kita yang kemudian siap, bahkan mempunyai guidance, mempunyai cara bagaimana melewati pandemi, krisis yang sedang kita hadapi saat ini," ujarnya dalam Webinar Indonesia Best CEO 2021 yang diselenggarakan SWA Media, Rabu (16/2). 

Di momen-momen krusial tersebut, strategi seorang pemimpin sangat menentukan arah perusahaan selanjutnya. Dia menganalogikan perusahaan layaknya pesawat yang tujuannya tidak kelihatan, kondisi angin begitu kencang, kemudian hubungan dengan air traffic control juga tidak putus, bahkan avturnya makin menipis, 

"Itu kira-kira yang dialami banyak perusahaan, kemudian penumpang juga harus kita siapkan agar tidak panik," tuturnya. 

"Nah ini yang kemudian dibutuhkan akhirnya pilot tidak berfungsi lagi sebagai autopilot tapi kita semua harus siap jadi pilot manual bagaimana mendaratkan pesawat ini, company ini sampai bisa soft landing dengan perhitungan yang betul-betul matang. Ini memerlukan kelincahan dan kesiapan bagaimana mereorganisasi dan berkomunikasi dengan baik," sambung Mirdal. 

Sebagai pimpinan holding perusahaan besar seperti Media Group, tentu tidak mudah menghadapi krisis saat ini. Lantas kerja sama dan dukungan dari semua jajaran direksi dan karyawan sangat penting dalam menyukseskan strategi-strategi yang diarahkan oleh pimpinan perusahaan. 

Mirdal menjelaskan respons Media Group terhadap turbulensi, yakni pertama tenaga kerja harus disiapkan sedemikian rupa. Perlu lakukan komunikasi yang sebaik-baiknya intuk mempersiapkan tenaga kerja hadapi turbulensi yang ada baik secara fisik, secara kesehatan, mental maupun sistem kerjanya. 

"Kita memberikan vaksinasi full kepada seluruh karyawan, khususnya di perusahaan media karena mereka termasuk front liners yang setiap harinya berhadapan dengan masyarakat dan bekerja hampir tidak pernah di rumah," terangnya. 

Dia menegaskan, strategi yang ada harus dikomunikasikan sejelas-jelasnya kepada karyawan. Bahkan sampai menyiapkan skenario terburuk. "The worst scenario kita bikin lapis 3, tapi kita berharap bisa lakukan yang terbaik," imbuhnya. 

"Kita harus jujur betul menyampaikan kepada karyawan apa yang bisa kita lakukan dan apa yang sedang terjadi tanpa melebih-lebihkan bahkan membuat suasana menjadi lebih buruk," kata dia. 

Strategi berikutnya adalah costumer intention dan cost management harus inklusif. Menurutnya hal itu bukan sekadar efisiensi tapi juga efektivitas. Efektivitas lebih didahulukan dari pada efisiensinya karena dalam konteks pandemi hampir semua tiarap, kemudian harus tetap hidup apalagi terkait dengan hospitality. 

Selain itu juga ada digital transformation. Disrupsi sebelum pandemi terjadii secara sistematis. Bahkan bisa diukur kapan disrupsi betul-betul total, tapi begitu terjadi pandemi disrupsi itu menjadi total. 

"Hampir dari semua kita gagap menghadapinya bahkan berubah sistem kerja kita dari yang offline menjadi online," ujarnya. 

Dia menyebut bahwa berdasarkan data World Economic Forum, sebanyak 2.500 pekerjaan yang hilang secara tiba-tiba karena pandemi. Asumsinya sampai tahun 2025. Tetapi juga muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang bahkan mungkin belum diprediksi. 

Baca juga : Mohammad Mirdal Akib Jadi CEO Terbaik Indonesia 2021

"Apalagi dengan masuknya era 5G dan perkembangan teknologi yang terus makin cepat. Di situlah membutuhkan enterprise ability dalam melakukan managing perusahaan, termasuk mengelola cashflow dan treasury," jelas Mirdal. 

Lebih lanjut, Mirdal membeberkan langkah-langkah bisnis yang dilakukan Media Group. Pertama, mencoba mendesain cara berpikir. Menghadapi disrupsi dengan mendisrupsi diri sendiri terdahulu. 

"Kalau Media Group Network adalah sebuah kapal besar yang menghasilkan sebuah output, sekarang kapal besar itu kita turunkan sekoci-sekocinya sehingga tidak terjadi total loss. Tetapi justru tumbuh sumber revenue baru yang kemudian bisa kita siapkan untuk menutupi kehilangan, perpindahan ke bisnis baru yang telah muncul," jelasnya. 

Kedua, sentralisasi management. Hingga saat ini di bawah MGN ada sekitar 35 unit usaha yang muncul selama pandemi. Mulai dari online, cetak, bahkan tv memiliki 3 channel dan akan bertambah lagi menjadi 4 channel. 

Sentralisasi yang dimaksud adalah sektor services yang dijadikan satu, seperti dapur yang dijadikan sentral kitchen dan kemudian yang diperbanyak adalah jenis-jenis makanan. Sentral kitchen tersebut adalah pengelolaan konten, finance and services, digital, dan juga sales. 

"4 Pokok besar kita sentralisasi yang kita perbanyak adalah unit-unit usaha atau sumber-sumber revenue," bebernya. 

Kemudian, juga melindungi resources yang ada. Hal itu harus dipertahankan sembari terus mengembangkan unit-unit usaha yang lain. 

Strategi bisnis selanjutnya adalah reconciliation in operation and capital cost (capex) by max collaboration. Menurut Mirdal, capex sudah tidak relevan lagi untuk beberapa perusahaan yang terkait dengan media dan lainnya. Pasalmya disrupsi membuat amortisasi menjadi tidak relevan lagi. 

Teknologi yang digunakan saat ini tidak bisa di-amortized sampai 5 tahun, sebab setiap tahun bisa bergeser secara drastis. Sehingga belanja capex menjadi tidak relevan dan muncullah ide baru membuat perusahaan yang bisa menyediakan seluruh peralatan media. 

Dari sisi human resources, Media Group melakukan evaluasi dan eliminasi. "Dua tahun ini kita lihat banyak sekali sektor yang bisa combain bahkan bisa digantikan mesin secara cepat," kata dia. 

Kemudian, ada strategi teknologi dan digital transformasi hingga transformasi platform. 

"Kami di Media Group setiap hari bahkan hari ini adalah turbulensi, setiap hari adalah krisis agar kami terus bisa menyiapkan mitigasi untuk goncangan-goncangan bisnis ke depan," tandasnya. 

Adapun, Media Group merupakan holding company dengan 6 sub holding. Media Groups membawahi Media Group Network (MGN) yang sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor media. Kemudian ada Media Group Hospitality di sektor perhotelan, Media Group Property, Media Group Food Industry, Media Group Investment and Energy, dan Media Group Peduli di sektor CSR. 

Keenam sub holding tersebut terintegrasi ke dalam satu ekosistem. Sehingga memberikan pelayanan bersifat end to end atau secara menyeluruh.(OL-7)

BERITA TERKAIT