15 February 2022, 13:28 WIB

Neraca Dagang Indonesia Surplus 21 Bulan Beruntun


M. Ilham Ramadhan Avisena |

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami surplus neraca dagang sebesar US$0,90 miliar pada Januari 2022. Capaian itu membuat Indonesia membukukan surplus neraca dagang selama 21 bulan beruntun.

Surplus neraca dagang pada Januari 2022 terjadi lantaran total nilai ekspor mencapai US$19,16 miliar, lebih tinggi dari total nilai impor sebesar US$18,23 miliar.

"Pada Januari 2022 kita masih mengalami surplus sebesar USD0,93 miliar. Neraca perdagangan kita telah membukukan selama 21 bulan beruntun," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers, Selasa (15/2).

Bila dibandingkan dengan Desember 2021 (month to month/mtm) yang tercatat surplus US$1,01 miliar, nilai surplus Januari 2022 sedikit lebih rendah. Setianto mengatakan, hal itu terjadi karena adanya penurunan kinerja ekspor dan impor yang disebabkan faktor musiman.

"Memang tren atau pola dalam dua tahun terakhir, dari Desember ke Januari itu selalu ada penurunan ekspor maupun impor," terangnya.

Baca juga: Presiden Lepas Ekspor 2 Juta Mobil Toyota

Dari capaian tersebut, kata Setianto, Indonesia mengalami surplus dagang dengan Amerika Serikat, Filipina, dan India. Surplus dagang dengan Negeri Paman Sam tercatat sebesar US$1,96 miliar, didorong oleh komoditas pakaian, aksesori rajutan HS61 dan pakaian, aksesori bukan rajutan HS62.

Sementara surplus dagang dengan Filipina tercatat sebesar US$537,8 juta didorong oleh komodigas kendaraan dan bagiannya HS87, dan bahan bakar mineral HS27. "Sedangkan surplus dari India USD428,8 juta, utamanya untuk komoditas lemak dan minyak hewani HS15 serta biji logam, perak, dan abu HS26," jelas Setianto.

Adapun Indonesia tercatat mengalami defisit dagang dengan Tiongkok sebesar US$2,23 miliar. Defisit disebabkan karena tingginya impor mesin dan peralatan mekanis HS84 serta mesin dan perlengkapan elektrik HS85.

Lalu defisit perdagangan juga terjadi dengan Thailand sebesar US$430,2 juta karena tingginya impor plastik dan barang dari plastik, dan gula dan kembang gula. Defisit juga terjadi dengan Australia sebesar US$233,6 juta lantaran tingginya impor komoditas serealia HS10 dan bahan bakar mineral HS27. (OL-4)

BERITA TERKAIT