14 February 2022, 17:05 WIB

Indonesia Diyakini Lolos Middle Income Trap di 2036 


M. Ilham Ramadhan Avisena |

INDONESIA diyakini bakal keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah (middle income trap) pada 2036. Itu berarti, visi untuk mencapai Indonesia sebagai negara berpenghasilan tinggi di 2045 akan terwujud. 

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Moneter Bank Indonesia Solikin M. Juhro dalam side event G20: Seminar on Recover Stronger bertema Shifting Toward Higher Value-Added Industries, Senin (14/2). 

"Kita bisa lolos dari middle income trap pada 2036, dan kita bisa mencapai visi 2045 menjadi negara maju dan berdaulat," ujarnya. 

Keyakinan itu didasari pada laju perekonomian yang membaik dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja ekonomi disebut telah berada di level tertinggi dan membuat pendapatan per kapita Indonesia naik level. 

Namun, kata Solikin, tren apik itu mengalami hambatan lantaran muncul pandemi covid-19 sejak 2020. Ekonomi yang diproyeksikan bakal melejit, justru mengalami pertumbuhan negatif akibat dampak virus korona. 

Baca juga : Dunia Waspada Perang, Harga Emas Terbang

Kendati begitu, berbagai kebijakan yang diambil pemerintah, bersama-sama dengan BI dan otoritas terkait, berhasil menahan dampak pandemi dengan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai penilaian positif dari beberapa lembaga internasional mengenai kinerja Indonesia memulihkan ekonomi akibat pandemi. 

"Jadi kita masih bisa membuka jalan untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi. Indonesia sekarang memiliki PDB per kapita sekitar US$3.900 per tahun," kata Solikin. 

Selain itu, reformasi struktural yang terus dilakukan juga menjadi alasan yang menguatkan keyakinan Indonesia bisa lolos dari middle income trap dan meraih visi 2045. Pasalnya, reformasi struktural itu memunculkan potensi dan mesin ekonomi baru yang lebih cepat. 

"Pemerintah memiliki pilar visi inovasi untuk mencapai pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan. Dan di sini sektor manufaktur menjadi salah satu pilar utama pembangunan menuju efisiensi, sektor manufaktur perlu diperkuat hingga integrasi hilir dan mendorong industri yang berkelanjutan," pungkas Solikin. (OL-7)

BERITA TERKAIT