01 February 2022, 22:45 WIB

Feronikel Bisa Perkuat Kinerja PT Aneka Tambang


Bayu Anggoro |


PT Aneka Tambang, Tbk, diyakini akan mendapat sektor usaha baru
yang memiliki masa depan yang baik. Karena itu, perusahaan pelat merah tersebut tidak hanya terpaku pada emas saja.

Pengamat Pasar Modal, Lucky Bayu Purnomo, optimistis dengan masa depan
usaha PT Aneka Tambang, Tbk. Pasalnya perusahaan pelat merah tersebut
tidak hanya akan terpaku pada satu sektor usaha seperti emas saja, tetapi juga sektor yang lain, salah satunya yaitu feronikel.

"Feronikel, terutama untuk Antam sebagai diversifikasi hasil tambang menurut saya memiliki prospek yang menarik," kata Lucky, Selasa (1/2).

Diketahui, dalam siaran pers Antam yang diterbitkan laman Bursa Efek
Indonesia (BEI), pekan lalu, memperlihatkan prospek cukup menggembirakan, terurama dalam komoditas feronikel. Sebab, selama 2021, Antam mencatatkan produksi feronikel (unaudited) sebesar 25.818 ton nikel dalam feronikel (TNi).

Angka tersebut dinilai relatif stabil jika dibandingkan dengan tingkat
produksi feronikel pada 2020. Sementara, volume penjualan produk feronikel Antam di tahun yang sama mencapai 25.992 TNi.

Tidak hanya itu, produksi bijih nikel (unaudited) Antam yang digunakan
sebagai bahan baku pabrik feronikel dan penjualan kepada pelanggan
domestik, juga mencapai 11,01 juta wet metric ton (wmt). Angka tersebut
meningkat 131% secara tahunan (yoy) dibandingkan dengan tingkat produksi pada 2020 sebesar 4,76 juta wmt.

Kemudian, kinerja penjualan bijih nikel Antam sepanjang 2021 mencapai
7,64 juta wmt, tumbuh 132% dari realisasi penjualan pada 2020 sebesar 3,30 juta wmt.

Lucky mengapresiasi aneka usaha yang dilakukan PT Antam. Menurutnya, dengan diversifikasi hasil tambang yang dimiliki sangat memungkinkan bagi Antam untuk dapat menghindari kerugian dan sekaligus meraup keuntungan yang lebih maksimal lagi.

Lucky mencontohkan fenomena pada awal 2020, saat Antam terancam mengalami pelemahan yang cukup tajam, terutama akibat dampak pandemi covid-19.

Namun situasi itu berubah dan Antam kembali menguat karena sektor usaha
yang dilakukan juga mengalami peningkatan, termasuk di sektor feronikel
dan emas.

"Kita ingat awal 2020 Antam mengalami kondisi yang melemah. Tapi, perusahaan berhasil menguat, karena selain feronikel juga dipicu harga emas saat itu tertinggi sepanjang sejarah di Antam, yaitu US$2.039,77 per troy ounce," jelasnya.

Lucky juga menjelaskan, beragam keuntungan yang didapat Antam dengan
produksi feronikel dan sektor lainnya. Sektor ini dapat menjadi pengganti ketika satu sektor mengalami penurunan dan pelemahan.

"Untuk feronikel, dari hasil tambang yang dilakukan bebebapa produsen
hasil tambang, persoalannya signifikan atau tidak. Tentu para miner
memiliki diversifikasi atau beberapa produk lain, produk subsitusi untuk mendukung kinerja fundamental," jelasnya.

Dia melihat, dengan produksi feronikel, Antam memiliki produk lain
sebagai subsitusi atau pengganti kinerja fundamental, jika salah satu
produknya terkoreksi. Terrkait feronikel yang dihasilkan, Antam beberapa waktu lalu sudah memberikan penjelasan.

Melalui akun resminya @OfficialAntam menulis, "Tahukah anda, feronikel
yang dihasilkan oleh Antam memiliki 80% kadar besi dan 20% nikel. Umumnya feronikel digunakan untuk bahan paduan pembuatan baja dan memiliki unsur lapisan anti karat. Di Indonesia feronikel ini diproduksi di Pabrik Feronikel Pomala."

Ketika ditanya terkait saham Antam yang masih cenderung naik-turun di
awal 2022, Lucky Bayu mengaku sama sekali tidak khawatir dengan kondisi tersebut.

Menurutnya, terjadinya pelemahan belakangan ini bersifat hanya temporal saja.

"Justru saya melihat Antam dalam kondisi diskon. Jadi pelemahan ini dimaknai sebagai koreksi temporer. Peraturan kan bisa mengalami perubahan. Contoh, kebijakan-kebijakan yang sudah ada di sektor komoditas apakah itu pajak ekspor-impor di industri kelapa sawit,
apakah DMO (domestik market obligation) di batu bara, itu kan mengikuti
dinamika di sektor. Jadi pandangan saya, sentimennya ini temporer,"
jelasnya. (N-2)

 

 

BERITA TERKAIT