27 January 2022, 22:20 WIB

Strategi Penanganan Pandemi Berbuah Manis pada Perekonomian 


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, strategi pemerintah menangani pandemi covid-19 cukup berhasil dan berbuah manis. Hal itu menurutnya dapat terlihat dari perekonomian yang menunjukkan tren pertumbuhan positif dari waktu ke waktu. 

“Strategi penanganan covid-19 menghasilkan hasil yang baik, sehingga pemulihan ekonomi dapat berjalan sesuai dengan apa yang disiapkan,” ujarnya dalam Media Group Network Summit 2022 - Bangkit Bersama Maju Indonesia, Kamis (27/1). 

Keberhasilan penanganan pandemi juga ditunjukkan dengan tingkat vaksinasi nasional yang telah menembus 300 juta suntikan. Per 26 Januari 2022, vaksinasi dosis pertama telah diberikan kepada 182,86 juta orang dan vaksinasi dosis kedua telah diberikan kepada 126,17 juta orang. 

Belum lagi vaksinasi booster dan percepatan vaksinasi kepada anak-anak yang dilakukan pemerintah. Capaian vaksinasi itu membuat Indonesia menjadi negara ke-4 di dunia yang telah menyuntikkan vaksin dalam jumlah besar. 

Buah dari vaksinasi tersebut kemudian terlihat dari perekonomian yang melaju ke arah perbaikan. Pada triwulan III 2021 ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 3,51% meski pada periode itu covid-19 varian delta merebak di Tanah Air. 

Baca juga : Ini yang Dilakukan Pemerintah untuk Dorong Pertumbuhan UMKM

Atas capaian kinerja itu, Airlangga meyakini Indonesia akan kembali memetik buah manis di triwulan IV 2021 dan terus berlanjut di 2022. 

“Kita berharap di triwulan IV bisa ada di 4,7%-5%, di mana secara menyeluruh di 2021 diperkirakan antara 3,7%-4%. Sedangkan di 2022 ini dengan penanganan covid yang tetap landai, kita berharap pertumbuhan secara selama 2022 bisa mencapai 5,2%,” tuturnya. 

Namun Airlangga menyampaikan, sejumlah tantangan di 2022 dapat mengganggu pemulihan yang sedang berjalan di Indonesia. Tantangan tersebut diantaranya yakni, krisis energi yang terjadi di sejumlah negara akibat kenaikan harga komoditas energi, disrupsi rantai pasok akiibat pemulihan yang terjadi di sejumlah negara, kenaikan inflasi di beberapa negara akibat penyesuaian kebijakan moneter, hingga ketidakpastian geo-politik dan ancaman perubahan iklim. 

Gejolak yang terjadi di level global itu diakui menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Beruntungnya, kata Airlangga, Indonesia memiliki pertahanan yang cukup mumpuni untuk mengantisipasi dampak gejolak tersebut. 

“Misal, surplus transaksi berjalan, kemudian cadangan devisa yang US$144 miliar, ekspor impor yang terus naik signifikan, nilai tukar rupiah yang di 2021 juga relatif stabil, serta IHSG yang bisa mencapai 5.700, ULN juga masuk ke dalam level yang aman,” kata dia. (OL-7)

BERITA TERKAIT