27 January 2022, 21:50 WIB

IMI : Vietnam hingga Korea Lirik Bisnis Mobil Listrik Indonesia 


Insi Nantika Jelita |

WAKIL Ketua Umum Hubungan Antarlembaga Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat Junaidi Elvis menuturkan, beberapa perusahaan asing tertarik menanam investasi pengembangan mobil listrik di Indonesia. 

Misalnya saja produsen mobil asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Motor yang telah menggelontorkan US$1,55 miliar untuk membangun pabrik perakitan mobil listrik pertamanya di Asia Tenggara, tepatnya di Bekasi, Jawa Barat. 

"Hyundai bisa kita katakan melakukan doing business, artinya sudah masuk menjadi salah satu mobil yang diproduksi di Indonesia. Vietnam hingga Korea pun mulai menawarkan diri ke Indonesia," kata dia dalam Journalist On Duty Media Indonesia secara virtual, Kamis (27/1). 

Bahkan, IMI Pusat dan Hyundai telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, khususnya sepeda motor arau roda dua di Indonesia pada Oktober 2021. 

Diketahui, MoU tersebut memuat kerja sama soal pengembangan Battery Swapping System (BSS), konversi kendaraan roda dua dari berbahan fosil atau Bahan Bakar MInyak (BBM) ke listrik dan lainnya. 

"MoU tersebut mendukung program mobil listrik dan mereka mendukung program IMI," jelas Junaidi 

Untuk pasar mobil listrik di Tanah Air, Junaidi berpandangan, bukan sebagai kendaraan prioritas masyarakat alias kendaraan berbahan bakar fosil masih menjadi pilihan utama. 

"Mobil listrik apa pun nantinya itu akan menjadi second car, bukan first car. Karena mobil listrik ini kalau kita bawa jalan jauh agak kurang nyaman," ucapnya. 

Baca juga : Forum B20 Diharapkan Jadi Lompatan Keluar Dari Krisis Global

Oleh sebab itu, IMI meminta dukungan pemerintah pusat untuk memberikan kemudahan dalam pembelian mobil listrik, misalnya adanya insentif. 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari menjelaskan, peemrintah berusaha mendukung perkembangan ekosistem kendaraan listrik. 

Caranya dengan memberikan insentif bagi pemilik kendaraan listrik berupa diskon tarif 30% pada pemakaian malam hari melalui PT PLN (Persero). 

"Jadi kalau Anda nge-charge kendaraan di malam hari itu jauh lebih murah," terangnya. 

Insentif lainnya juga diberikan kepada badan usaha yang membangun stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU. 

Dalam rilis PLN disebutkan insentif tersebut seperti penetapan tarif curah yang lebih rendah dari harga jual ke pelanggan, lalu pembebasan rekening minimum selama 2 tahun pertama, keringanan biaya penyambungan tambah daya atau diskon 50% atau pasang baru dengan cicilan selama 12 bulan, dan lainnya. 

Sebagai gambaran, ungkap Ida, jika pihak swasta mau terlibat investasi di SPKLU bisa mendapatkan untung dari harga jual listrik. Saat mereka membeli tarif curah listrik dari PLN sekitar Rp714 per kWh, maka dapat dijual ke konsumen senilai Rp2.400 kWh. (OL-7)

BERITA TERKAIT