26 January 2022, 15:12 WIB

Geliat Industri Otomotif di Era Digitalisasi dan Otomatisasi


Mediaindonesia.com | Ekonomi

Salah satu hal positif yang terjadi selama pandemi adalah pemanfaatan teknologi dalam aktivitas manusia. Kemampuan beradaptasi adalah keharusan dalam menghadapi keterbatasan ruang gerak dan waktu.

Reopening economy yang terjadi saat pandemi masih berlangsung, mengubah “customer behaviour” secara signifikan. Hal ini harus dibarengi dengan kecepatan bisnis untuk mengejar perubahan kebutuhan pelanggan yang terjadi dalam dunia otomotif khususnya segmen aftermarket.

Dalam dunia otomotif, kecepatan servis kendaraan dan ketersediaan suku cadang yang melimpah memang sangat penting. Namun hal tersebut juga harus didukung dengan kenyamanan dalam aktivitas order and delivery-nya.

Ke depan, industri tak hanya mengejar layanan fisik (hardware centric value) tetapi pelanggan akan sangat mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan dalam berinteraksi melalui teknologi (software centric value). Contoh sederhananya ketika seorang konsumen mengalami keterbatasan jika harus menunggu di ruang tunggu bengkel, dan ketidaknyamanan karena harus bertemu orang lain sambal tetap menjaga protokol Kesehatan.

Belum lagi mempertimbangkan jarak dari rumah ke bengkel, dan masih harus membagi waktu dengan banyak aktivitas lainnya seperti bekerja atau mengurus bisnis dan keluarga.

Akhirnya konsumen memilih untuk menunda waktu servis kendaraan atau pindah ke bengkel yang lebih dekat dengan tempat tinggal dan hanya mengganti oli tanpa melakukan servis kendaraan secara keseluruhan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Bidang Industri Otomotif Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) Cahyo Harbianto menuturkan bahwa Dunia aftermarket otomotif harus mampu mengadopsi teknologi dalam menjalankan usahanya, otomatisasi dan digitalisasi adalah sebuah solusi dalam mengejar perilaku konsumen yang berubah, baik dalam kenyamanan melakukan pemesanan jasa service, suku cadang, maupun berinteraksi selama pelayanan diberikan.

Pemanfaatan chat yang lebih instan bisa jadi salah satu solusi praktis, terkait interaksi dengan konsumen. Sehingga aktivitas bertemu langsung atau bicara via telepon, malah jadi pilihan alternatif.

Layanan servis kendaraan di tempat (on-site service) harus sudah menjadi hal yang lebih wajar ke depan. Tuntutan efisiensi waktu adalah sebuah hal yang tak terhindarkan.

Sebuah bisnis aftermarket di dunia otomotif harus mengubah konsep bengkel menjadi lebih mobile service. Fleksibilitas waktu dan tempat pun akan memberi kenyamanan kepada konsumen. Lebih jauh lagi, hal tersebut akan membantu konsumen agar tetap melakukan servis tepat waktu dan mengganti suku cadang (bila diperlukan).

Hal ini bisa dimulai dari mindset segmen aftermarket otomotif. Jika tadinya hanya sekadar melakukan perbaikan, jadi menambah nilai kendaraan tanpa menyita waktu dan mengurangi kenyamanan pemilik kendaraan sebagai konsumen.

Cahyo juga menyampaikan bahwa membangun bentuk operasi yang hybrid (hybrid operations), bisa menambah keunggulan kompetitif dari sebuah bisnis. Hybrid operations, secara singkat adalah perpaduan antara kemampuan manusia dalam menjalankan mesin atau teknologi dalam kegiatan operasional usaha

Mendukung hal tersebut, R. Beniadi Setiawan selaku Chairman IARSI juga mengungkapkan, untuk dapat bertahan bahkan meningkatkan pangsa pasar pada kondisi ekonomi yang masih dalam masa pemulihan ini, sangat diperlukan upaya memaksimalkan potensi digitalisasi operasi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas perusahaan. Khususnya dalam momentum geliat digitalisasi masyarakat selama dua tahun belakangan ini. (OL-12)

BERITA TERKAIT