23 January 2022, 09:45 WIB

Pengamat: Indonesia Butuh Enterpreneur Seperti Marimutu Sinivasan


Wibowo Sangkala |

SEJAK Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI (Satgas BLBI) dibentuk oleh Pemerintah, nama Marimutu Sinivasan kembali menghiasi halaman-halaman media cetak, media elektronik maupun media online. Penyebabnya adalah Menkeu Sri Muliani mendapuk Sinivasan sebagai Bos Group Texmaco itu punya hutang Rp29 Triliun dari dana BLBI, sehingga ia menjadi salah satu debitor prioritas yang dikejar oleh Satgas BLBI.

Sementara Sinivasan sendiri menolak pernyataan Menteri Keuangan tersebut dengan dalil dan bukti yang dimilikinya. Padahal sebelumnya nama Sinivasan sebagai sosok pengusaha kakap seakan tenggelam, sangat jarang bahkan tidak pernah muncul sejak terjadinya krisis moneter di Indonesia.

Pengamat Kebijakan Pablik Dr. H. Sakhyan Asmara, MSP dalam pernyataanya, Minggu (23/1) menyatakan terlepas dari polemik hutang Sinivasan kepada negara, sesungguhnya Sinivasan adalah sosok enterpreuneryang sangat dibutuhkan oleh Indonesia saat ini. Sebab, jelas Sakhyan, saat ini pemerintah sedang gamang untuk memulihkan  perekonomian bangsa dan sedang menyusun terobosan untuk menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja di Indonesia.

Menurut Doktor Kebijakan Publik lulusan dari Universitas Indonesia itu, untuk menjawab kegalauan Pemerintah sekaligus  sebagai upaya memenuhi janji Jokowi pada masa kampanyenya maka membangun enterpreunership atau kewirusahaan dikalangan masyarakat terutama bagi angkatan kerja di Indonesia adalah solusi utamanya. Sebagaimana diketahui menurut Sakhyan, ukuran kemakmuran suatu bangsa dapat dilihat sampai seberapa besar tingkat enterpreunership yang dimiliki oleh bangsa itu.

Sementara itu, jelas Sakhyan Menteri BUMN Erick Tohir pernah mengatakan bahwa tingkat kewirausahaan atau entrepreneurship di Tanah Air masih lebih rendah jika dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Jumlah wirausaha Indonesia  baru sekitar 3,47 persen dari total penduduk. Sementara negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, tingkat kewirausahaanya sudah berada di sekitar 4,74 persen dan 4,26 persen, Singapura yang tertinggi yakni sebesar 8,76 persen. Indonesia masih jauh di bawah negara-negara tersebut.

Dari berbagai sumber yang bisa dibaca, menurut Sakhyan yang juga dosen S2 dan S3 Fisipol USU, Marimutu Sinivasan mempunya pengetahuan dan pengalaman yang sangat luar biasa dibidang enterpreunership. Ia, ungkap Sakhyan, memulai kariernya di dunia wirausaha sejak usia muda yakni 21 tahun, padahal sebelumnya ia adalah pegawai dari sebuah perusahaan. Mental pegawai dia tinggalkan dan dia bangun jiwa kewirausahaan. "Mental seperti inilah yang harus diketuktularkan kepada generasi muda kita sekarang. Sinivasan dalam usia yang sangat muda, sebagai pengusaha muda, pernah masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia," kata dia.

Sinivasan, ungkap Sakhyan memulai usahanya dibidang  impor tekstil sebagai bisnis pertamanya. Kemudian ia membangun sebuah pabrik pemintalan tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi asal muasal lahirnya Grup Texmaco singkatan dari Textile Manufacturing Company. Karena permintaan pasar yang tinggi, maka untuk menambah kapasitas produksi Texmaco pun  mendirikan pabrik di berbagai daerah, kemudian mendirikan pabrik pembuatan polekat pertama yakni bahan baku untuk membuat sarung, lalu ia  mendirikan perusahaan batik dan pabrik penyelupan.

Usahanya semakin bersinar, ia melebarkan sayapnya dengan membangun pabrik poliester di Semarang lalu memasuki dunia industri otomotif. Texmaco menciptakan sebuah kendaraan truk bernama Perkasa yang sempat dipesan TNI sebanyak 800 unit. Itu semua dilakoninya pada usia muda dengan bekal pendidikan  tidak sarjana.

Dengan bekal pengetahuan dan pengalamannya itu, bangsa Indonesia sangat memerlukan sosok Sinivasan sebagai role model untuk membangun entrepreneurship di Indonesia terutama dikalangan generasi muda. "Dengan comeback nya Sinivasan di dunia usaha, saya yakin akan memberikan solusi bagi perbaikan ekonomi bangsa, yang dapat memberikan hasil bagi rakyat Indonesia, melebihi dari hutang yang dimilikinya kepada negara jika hutang itu benar-benar ada. Jadi kita bangsa Indonesia, benar-benar membutuhkan kembalinya Sinivasan melaksanakan kiprahnya dalam dunia entrepreneurship di Indonesia," tandas Sakhyan. (OL-13)

Baca Juga: Pencabutan Perizinan Pertambangan, Perkebunan dan Kehutanan harus Transparan

BERITA TERKAIT