20 January 2022, 14:58 WIB

Presiden Soroti Kredit UMKM yang Masih Rendah


Andhika Prasetyo | Ekonomi

PRESIDEN Joko Widodo menyoroti masih minimnya akses permodalan yang diberikan perbankan kepada para pelaku UMKM di Tanah Air.

Saat ini, baru 20% dari sekitar 62,9 juta pebisnis UMKM yang memperoleh kredit dari perbankan. Kondisi tersebut sudah berjalan bertahun-tahun tanpa ada peningkatan.

"Porsi kredit UMKM di perbankan masih belum berubah. Mungkin sudah mungkin tiga atau empat kali saya sampaikan tapi sekarang masih saja di kisaran 20%," ujar Jokowi saat membuka Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022 secara daring dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/1).

Kepala negara menegaskan bahwa, di 2024, jumlah UMKM yang dirangkul perbankan harus mencapai 30% dari total keseluruhan.

Untuk mewujudkan target tersebut tentu diperlukan inovasi dan terobosan. Cara-cara lama yang terbukti tidak efektif harus segera ditinggalkan.

"Kita tidak bisa mengandalkan pertumbuhan alamiah saja. Harus strategi yang dijalankan dengan terobosan-terobosan dan diikuti aksi-aksi yang serius, yang konsisten dan berkelanjutan," tegas mantan wali kota Solo itu.

Baca juga: Pemerintah Tingkatkan Pengawasan Pelaksanaan APBD

Ke depan, ia menekankan bahwa dirinya tidak mau lagi mendengar ada cerita yang berseliweran tentang UMKM yang kesulitan mengakses pinjaman dari perbankan, tentang pelaku usaha informal seperti petani yang tidak bisa mengakses permodalan.

"Saya tidak mau lagi ada cerita seperti itu. Ini harus bisa kita permudah, percepat, sehingga memberikan peluang yang lebih besar bagi UMKM, bagi generasi muda yang memulai usaha untuk mengembangkan atau memperbesar skala bisnis mereka," jelas Jokowi.

Perhatian besar presiden terhadap pelaku UMKM bukan tanpa alasan. Menurutnya, sektor tersebut merupakan salah satu komponen penting dalam pemulihan ekonomi nasional. UMKM bisa berperan mengatasi persoalan bottleneck supply chain akibat tingginya tren kenaikan permintaan yang belum mampu dipenuhi oleh para pengusaha yang ada saat ini.

"UMKM bisa membantu mengisi ketersediaan karena rantai pasok belum 100% pulih akibat pandemi. Keberhasilan UMKM bertransformasi di masa pandemi bisa menjadi modal awal untuk membawa mereka naik kelas sekaligus menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi," ucapnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT