18 January 2022, 16:26 WIB

Harga Minyak Mentah Sentuh Level Tertinggi dalam Tujuh Tahun


Mediaindonesia.com | Ekonomi

HARGA minyak mentah mencapai level tertinggi lebih dari tujuh tahun pada Selasa (18/1) di tengah optimisme pemulihan global akan meningkatkan permintaan. Meskipun demikian, kekhawatiran tentang berakhirnya dukungan bank sentral yang sudah berjalan lama dan kenaikan imbal hasil treasury membuat sebagian besar pasar ekuitas membalikkan penguatan awal.

Setelah reli yang hampir tidak terputus dari hari-hari awal pandemi, pasar dunia menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kepala keuangan global mulai beralih dari sumbangan yang meningkatkan ekonomi ke langkah-langkah yang bertujuan mengendalikan inflasi.

Namun, ada harapan bahwa ekuitas akan menikmati kenaikan lebih lanjut tahun ini ketika negara-negara dibuka kembali dan orang-orang tumbuh lebih percaya diri tentang perjalanan. Apalagi penelitian menunjukkan varian virus korona omikron yang tampaknya lebih ringan dan vaksinasi diluncurkan.

Para analis juga mengamati musim pendapatan perusahaan yang sedang berlangsung. Harapan mereka bahwa perusahaan dapat menyamai kinerja bintang mereka tahun lalu.

Pasar saham Asia memulai hari dengan cerah setelah keruntuhan pada Senin (17/1). Dengan imbal hasil Treasury AS melonjak karena ekspektasi Federal Reserve harus mengungkap beberapa kenaikan suku bunga untuk mengatasi lonjakan inflasi yang mengkhawatirkan. Wall Street ditutup pada Senin. 

Pasar ekuitas di Tokyo, Hong Kong, Sydney, Seoul, Singapura, Taipei, Mumbai, Bangkok, dan Jakarta semua jatuh. Ada keuntungan di Shanghai saat harapan langkah-langkah baru yang meningkatkan ekonomi. Wellington dan Manila juga naik tipis. Indeks saham di London, Paris, dan Frankfurt semua jatuh saat pembukaan.

Namun minyak mulai memberikan optimisme awal. Harga minyak mentah Brent naik ke US$88,13 per barel dan WTI mencapai US$85,74. Kedua level itu tidak terlihat sejak Oktober 2014.

Keuntungan datang berkat optimisme permintaan saat dunia dibuka kembali dan kekhawatiran tentang omikron mereda. Pelonggaran pembatasan perjalanan di beberapa negara telah membuat biaya bahan bakar jet melonjak.

Baca juga: Data Pekerjaan Tampil Kuat di Inggris meskipun Omikron Melanda

Harapan untuk lebih banyak pelonggaran moneter oleh konsumen utama Tiongkok untuk memperkuat ekonomi yang tersendat juga dilihat sebagai dukungan utama untuk pasar minyak. Faktor lain dalam lonjakan harga itu yakni klaim serangan oleh pemberontak Houthi Yaman di Abu Dhabi yang memicu ledakan tangki bahan bakar yang menewaskan tiga orang pada Senin. 

Goldman Sachs memperkirakan reli harga minyak akan berlanjut. Raksasa Wall Street itu mengatakan harganya bisa menembus US$100 pada tahun depan untuk pertama kali sejak Juli 2014. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT