18 January 2022, 16:03 WIB

Sektor UMKM Semakin Adaptif Hadapi Pandemi


Fetry Wuryasti | Ekonomi

HASIL survei kondisi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) oleh Mandiri Institute menunjukan UMKM sudah lebih dapat beradaptasi dalam situasi pandemi covid-19 pada akhir 2021. Menjelang akhir 2021, sekitar 56,8% UMKM telah berjalan normal, lebih tinggi dibandingkan dengan periode PPKM darurat dengan hanya 33,6% UMKM yang berjalan normal.

"Sebagai dampak PPKM darurat, hampir seperlima usaha (19,3%) terpaksa berhenti beroperasi. Dari yang terpaksa berhenti, sebagian besar usaha (46,3%) mengalami vakum selama kurang dari 2 bulan, sementara lebih dari sepertiga usaha (35,5%) terpaksa menutup operasi selama 2 hingga 4 bulan," kata Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono, Selasa (18/1).

Survei ini dilakukan pada Desember 2021 terhadap 2.944 UMKM yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan beberapa provinsi di Indonesia bagian timur. Tujuan survei kali ini adalah untuk melihat kondisi UMKM pada masa pemulihan ekonomi pada akhir 2021.

Melalui kajian ini, Mandiri Institute juga melihat tren penggunaan saluran digital untuk mempromosikan dan menjual produk atau jasa pada UMKM nasional. Survei melihat seberapa pesat penetrasi saluran pembayaran digital yang digunakan oleh UMKM, dan bagaimana digitalisasi membantu UMKM bertahan pada periode PPKM darurat di Juli-Agustus 2021.

Kinerja penjualan UMKM, yang diukur dari kenaikan omset, pada awal kuartal IV 2021 sudah lebih baik. Sepanjang periode awal PPKM darurat di Juli – Agustus 2021, 72,0% UMKM mengalami penurunan omset. Namun pada November – Desember 2021, UMKM yang omsetnya menurun hanya sebesar 11,7%. "Sebaliknya, mayoritas UMKM (53,9%) justru mengalami kenaikan omset," kata Yudo.

Digitalisasi dalam penjualan dan transaksi, serta kemampuan adaptasi dalam produk dan usaha yang dilakukan membantu UMKM tetap survive dan meningkatkan omzet usaha.

Dalam upaya melakukan adaptasi, sekitar 85,6% UMKM melakukan perubahan jenis produk dan cara berusaha, sementara sebesar 58,9% melakukan penghematan biaya operasional.

Selain itu, ada banyak UMKM yang juga terpaksa memberi diskon dan bonus untuk mempertahankan pangsa pasar. Meningkatnya kemampuan adaptasi tersebut terlihat dari semakin banyak UMKM yang dapat mempertahankan omzet atau pendapatan usaha. (E-3)

BERITA TERKAIT