12 January 2022, 19:40 WIB

Tolak Bantuan IMF, Sri Lanka Cari Pinjaman Baru Tiongkok


Mediaindonesia.com | Ekonomi

SRI Lanka mengesampingkan bantuan IMF pada Rabu (12/1). Negara itu berencana mencari pinjaman lain dari Tiongkok untuk mengatasi krisis ekonomi yang telah menyebabkan kekurangan makanan dan bahan bakar.

Ekonomi yang bergantung pada pariwisata di pulau itu telah terpukul oleh pandemi. Supermarket menjatah barang dan pemadaman listrik secara bergilir diberlakukan karena tidak dapat mendanai impor minyak.

Lembaga pemeringkat internasional telah memperingatkan akan terjadi gagal bayar utang luar negeri Sri Lanka senilai US$35 miliar. Ditambah lagi cadangan devisa kritis dan defisit anggaran menganga.

Namun gubernur bank sentral Ajith Nivard Cabraal menolak seruan yang meningkat dari para ekonom lokal dan internasional untuk mencari dana talangan Dana Moneter Internasional dan restrukturisasi utang. "IMF bukan tongkat ajaib," katanya dalam konferensi pers di Kolombo. "Pada titik ini, alternatif lain lebih baik daripada pergi ke IMF."

Baca juga: Kendaraan Listrik Dorong Lonjakan Penjualan Mobil Tiongkok

Cabraal menambahkan bahwa pembicaraan dengan Tiongkok mengenai pinjaman baru berada pada tahap lanjutan dan kesepakatan baru terkait pembayaran utang. "Mereka akan membantu kami dalam melakukan pembayaran. Pinjaman baru yang datang dari Tiongkok untuk melindungi pembayaran utang kami ke Tiongkok sendiri," katanya.

Beijing sudah menjadi pemberi pinjaman bilateral terbesar di pulau itu. Negeri Tirai Bambu itu menyumbang setidaknya 10% dari utang luar negeri Sri Lanka.

Pernyataan Cabraal datang beberapa hari setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi yang membahas restrukturisasi pembayaran utang dengan Presiden Gotabaya Rajapaksa. Sri Lanka telah banyak meminjam dari Tiongkok untuk infrastruktur di masa lalu, beberapa di antaranya berakhir dengan biaya tinggi.

Tidak dapat membayar kembali pinjaman sebesar US$1,4 miliar untuk pembangunan pelabuhan di selatan, Sri Lanka terpaksa menyewakan fasilitas tersebut kepada perusahaan Tiongkok selama 99 tahun pada 2017. Amerika Serikat dan India telah memperingatkan bahwa pelabuhan Hambantota, yang terletak di sepanjang rute pelayaran internasional timur-barat yang vital, dapat memberi Tiongkok berupa pijakan militer di Samudra Hindia.

Baca juga: Tolak Pupuk Buruk, Sri Lanka Mesti Bayar Perusahaan Tiongkok

Cabraal tidak memberikan indikasi ukuran pinjaman yang dicari dari Tiongkok. Ia mengatakan pembicaraan juga sedang berlangsung dengan India untuk kredit senilai US$1 miliar untuk mendanai berbagai impor. Dia juga mengatakan Kolombo akan membayar kembali obligasi pemerintah senilai US$500 juta yang jatuh tempo Selasa depan meskipun para pemimpin bisnis lokal secara terbuka memintanya untuk menahan pembayaran dan mencari bantuan IMF. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT