12 January 2022, 12:40 WIB

Bank Dunia Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 4,1% di 2022


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi


BANK Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2022 menjadi 4,1%, lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan di 2021 yang mencapai 5,5%. Penurunan berlanjut pada 2023 di mana ekonomi global diprediksi hanya akan bertumbuh 3,2%.

Pemangkasan dan pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia itu disebabkan oleh ketidakpastian dari covid-19 varian omikron.

"Perkiraan tersebut mengasumsikan covid memiliki dampak terbesar pada triwulan I 2022. Jika varian (omikron) tetap ada, ada risiko penurunan pada perkiraan yang dapat mengurangi pertumbuhan global lebih jauh dari 2,10 hingga 7,10 poin persentase," ujar Presiden Bank Dunia David Malpass dilansir dari situs Bank Dunia, Rabu (12/1).

Dia menambahkan, negara-negara berkembang menghadapi masalah jangka panjang yang parah terkait dengan tingkat vaksinasi yang lebih rendah, kebijakan makro global, dan beban utang. Ada jurang yang tumbuh antara tingkat pertumbuhan mereka dan mereka yang berada di ekonomi maju.

Ketimpangan tersebut bahkan dinilai lebih dramatis dalam hal pendapatan per kapita dan median, dengan orang-orang di negara berkembang tertinggal dan tingkat kemiskinan meningkat. Bank Dunia, kata Malpass, melihat ada pembalikan yang mengganggu dalam kemiskinan, nutrisi, dan kesehatan. Lalu pembalikan pendidikan dari penutupan sekolah akan berdampak permanen.

Selain itu, inflasi yang meningkat akan menjadi masalah utama dan relatif baru. Rantai pasokan dunia menurutnya dapat terus terganggu. Amerika Serikat misalnya, menderita Pengunduran Diri Hebat (The Great Resignation). "Sulit untuk mendapatkan pekerja kembali ke angkatan kerja dan rantai pasokan setelah mereka keluar," kata Malpass.

"Inflasi dan suku bunga memukul orang miskin paling keras. Sepertiga negara berkembang telah mengalami kenaikan suku bunga dan sektor swasta di negara berkembang menyusut. Mereka adalah kunci pertumbuhan, tetapi mereka berada di bawah tekanan," tambahnya.

Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) yang dirilis Bank Dunia, imbuh Malpass, mendapati adanya Pengeluaran pemerintah di negara maju akan menjadi sangat tinggi. Kekhawatirannya yakni pinjaman besar oleh negara-negara maju mengurangi jumlah uang yang tersedia.

"Sulit bagi pemerintah untuk menemukan investasi yang berguna pada titik ini dalam siklus, sehingga pengeluaran akhirnya menjadi penghambat pertumbuhan. Ada crowding out yang melanda bisnis kecil. Ini adalah salah satu faktor dalam masalah rantai pasokan," kata Malpass.

Selain itu, Wakil Menteri Keuangan AS era Donald Trump itu bilang, faktor lainnya yakni neraca bank sentral telah menyerap jumlah aset jangka panjang yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dibiayai oleh cadangan bank. Hal itu mengalokasikan modal jauh dari usaha kecil dan dari rantai pasokan.

"Kekurangan modal kerja ini mempersulit penurunan tingkat inflasi, kenaikan suku bunga dan kondisi kredit yang lebih ketat menambah masalah modal kerja ini. Kami membutuhkan pinjaman usaha kecil yang kuat untuk memecahkan masalah pasokan," kata Malpass.

Dia menambahkan, bank sentral dapat melawan gejolak inflasi dengan melakukan penaikan suku bunga dan pengurangan total asetnya. Namun menurut Malpass, hal itu dikhawatirkan tidak menuntaskan masalah inflasi.

"Sangat penting bagaimana neraca bank sentral menyusut. Mereka dapat mengurangi aset jangka pendek mereka, yang tidak akan banyak membantu, itu hanya akan memindahkan tagihan Treasury ke neraca lain di tempat lain, atau mereka dapat mengurangi aset jangka panjang. Saya pikir proses yang terakhir akan membantu dengan masalah rantai pasokan dan ketidaksetaraan," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Kementerian ESDM Tegaskan Ekspor Batu Bara Masih Dilarang hingga 31 Januari

BERITA TERKAIT