06 January 2022, 06:20 WIB

Emas Naik 10,5 Dolar AS Didorong Pelemahan Saham Acuan AS


mediaindonesia.com | Ekonomi

HARGA emas berjangka memperpanjang kenaikan untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), ketika indeks saham acuan AS sebagian besar diperdagangkan lebih rendah dan dolar AS melemah.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, terangkat 10,5 dolar AS atau 0,58 persen menjadi ditutup pada 1.825,10 dolar AS per ounce.

Sehari sebelumnya, Selasa (4/1/2021), emas berjangka menguat 14,5 dolar AS atau 0,81 persen menjadi 1.814,60 dolar AS per ounce, setelah anjlok 28,5 dolar AS atau 1,56 persen menjadi 1.800,10 dolar AS per ounce.

"Investor tampaknya tertarik pada emas karena kasus varian Omicron yang meningkat mempercepat pelarian ke tempat yang aman," kata Lukman Otunuga, manajer, analisis pasar, di FXTM.

Bagaimana emas mengakhiri minggu perdagangan pertama tahun 2022, akan dipengaruhi tidak hanya oleh risalah pertemuan FOMC hari ini, tetapi juga data pekerjaan utama AS pada Jumat (7/1/2022), katanya.

"Jika laporan ini memperkuat ekspektasi atas Federal Reserve menaikkan suku bunga tiga kali tahun, ini bisa mengirim emas dengan imbal hasil nol lebih rendah."

Tak lama setelah pasar ditutup, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) merilis risalah pertemuannya pada Desember. Risalah menunjukkan bahwa pejabat Federal Reserve umumnya berpikir kenaikan suku bunga bisa datang lebih cepat dan pada laju yang lebih cepat dari yang mereka duga sebelumnya.

Menurut risalah dari pertemuan kebijakan Fed 14-15 Desember, pejabat Fed mengatakan bulan lalu bahwa pasar tenaga kerja AS "sangat ketat" dan mungkin tidak hanya perlu menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan, tetapi juga mengurangi kepemilikan aset dengan cepat.

Emas berjangka jatuh dalam perdagangan elektronik setelah risalah Fed, ketika indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS memangkas kembali kerugian mereka.

"Pasar emas telah melihat kemunduran dari tertinggi baru-baru ini dalam menanggapi risalah Fed. Pasar sudah terbebani oleh ekspektasi Fed yang lebih hawkish," kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, seperti dikutip oleh Reuters.

"Kenaikan imbal hasil obligasi jelas membebani pasar emas. Namun, dukungan yang mendasari premis di pasar ini adalah tekanan inflasi yang sedang berlangsung dan kekhawatiran virus membawa sedikit elemen permintaan safe haven."

Investor juga menunggu laporan pekerjaan bulanan AS yang akan keluar pada Jumat (7/1/2022), yang dapat membantu memandu arah harga emas.

Data ekonomi yang dirilis pada Rabu (5/1/2022) beragam. Laporan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) yang dirilis pada Rabu (5/1/2022) menunjukkan bahwa pengusaha menambahkan 807.000 pekerjaan pada Desember, menggandakan ekspektasi pasar.

Indeks Manajer Pembelian Jasa-jasa AS terakhir yang disusun oleh IHS Markit turun menjadi 57,6 pada Desember dari 58,0 pada November.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 11,4 sen atau 0,49 persen, menjadi ditutup pada 23,17 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik 30,7 dolar AS atau 3,16 persen, menjadi ditutup pada 1.001,9 dolar AS per ounce. (Ant/OL-13)

Baca Juga: Menko Airlangga: Harga Minyak Goreng Rp 14 Ribu Per Liter Berlaku di Seluruh Indonesia

BERITA TERKAIT