21 December 2021, 11:25 WIB

Surplus Neraca Dagang Jaga Upaya Pemulihan Ekonomi Nasional


 Fetry Wuryasti |

SURPLUS neraca dagang merupakan salah satu indikator upaya pemulihan ekonomi, setelah terdisrupsi oleh pandemi Covid-19 sejak awal tahun lalu.

Untuk mempertahankan capaian ini, pemerintah perlu menjalankan perdagangan yang terbuka dengan tetap memperhatikan kelancaran rantai pasok dalam negeri.

“Pemerintah harus fokus pada orientasi perdagangan terbuka dengan tidak melupakan kepentingan kelancaran rantai pasok dalam negeri yang dapat mendukung perekonomian di daerah,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan, Selasa (21/12).

Nilai impor Indonesia pada November 2021 ini tercatat memiliki valuasi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai USD 19,33 miliar.

Pingkan juga juga meminta pemerintah untuk mempermudah proses impor bahan baku untuk menggerakkan industri. Penurunan nilai impor, terutama pada bahan baku industri, seharusnya dilihat sebagai sebuah peringatan.

Porsi impor terbesar Indonesia masih dipegang sektor migas dengan impor di bulan November ini mencapai USD3,03 miliar atau setara dengan pertumbuhan 59,4% dari Oktober 2021 dan 178,9% year-on-year. Porsi terbesar ada pada komoditas hasil minyak.

Dari sektor non-migas, Impor terbanyak adalah mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya serta mesin atau peralatan elektrik dan bagiannya dengan masing-masing mencatatkan valuasi sebesar USD2,6 miliar dan USD2 miliar.

Di sisi yang lain, terjadi penurunan impor produk pertanian dan perkebunan seperti serealia, gula, dan kembang gula.

Negara asal impor produk non-migas terbanyak masih Tiongkok, diikuti oleh Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, Thailand, Singapura dan Amerika Serikat.

“Berkurangnya impor juga merupakan salah satu dampak pandemi Covid-19 dimana industri mengurangi jumlah tenaga kerja dan juga produksinya. Berkurangnya jumlah tenaga kerja dan produksi tentu juga mengurangi jumlah perdagangan, baik ekspor maupun impor, Tegas Pingkan.

“Adanya surplus neraca perdagangan bukanlah ukuran performa ekonomi sedang berjalan dengan baik. Namun, ini harus dilihat secara detail ekspor-impor pada komoditas,” imbuhnya.

Selain mencatat angka ekspor tertinggi bulan November 2021 juga mencatat surplus sebesar USD3,51 miliar.

Secara kumulatif surplus sebelas bulan pertama 2021 mencapai USD34,32 miliar, peningkatan signifikan dibanding USD 19,52 miliar pada periode yang sama di tahun 2020.

Sektor non-migas memberikan kontribusi terbesar pada ekspor Indonesia dengan USD21,5 miliar sementara sektor migas hanya menyumbang USD1,3 miliar yang didominasi ekspor gas senilai USD0,9 miliar pada November 2021.

Lima penyumbang nilai ekspor terbesar ialah bahan bakar mineral (USD4,1 miliar), lemak dan minyak hewan/nabati (USD2,5 miliar), besi dan baja (USD2 miliar), mesin dan perlengkapan elektrik (USD1 miliar), dan alas kaki (USD0,6 miliar).

Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor non-migas Indonesia yang terbesar dengan USD5,4 miliar diikuti dengan Amerika Serikat, Jepang, India, dan juga Malaysia yang masing-masing valuasinya berada di atas USD1 miliar.

Sedangkan untuk pangsa ekspor regional, pasar ASEAN masih memimpin dengan USD 4,1 miliar jika dibandingkan dengan pasar Uni Eropa di USD 1,8 miliar.

“Pemerintah perlu terus membuka peluang ekspor pada negara-negara non-tradisional untuk meningkatkan jangkauan ekspor produk Indonesia. Peningkatan daya saing produk juga harus terus dilakukan,” kata Pingkan. (Try/OL-09).

BERITA TERKAIT