14 December 2021, 22:56 WIB

Ada Varian Omicron, ADB Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia 2021 Jadi 7% 


Fetry Wuryasti |

ASIAN Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan Asia menyusul kemunculan varian baru Omicron dan peningkatan kasus di dunia. Dalam laporan terbaru bertajuk ‘Asian Development Outlook Supplement’, ADB memperkirakan pertumbuhan domestik bruto (PDB) menjadi 7 persen pada tahun ini, turun sedikit dari perkiraan 7,1 persen pada September. 

Prospek pada tahun depan juga akan diperkirakan melambat 0,1 persen menjadi 5,3 persen. 

“Negara berkembang di Asia diperkirakan akan mempertahankan rebound yang kuat seperti yang diperkirakan pada September,” tulis ADB dalam laporannya, Selasa (14/12/). 

ADB mengingatkan, varian Covid-19 Omicron harus menjadi perhatian serius bahwa kemungkinan penyebaran wabah tetap ada. 

Negara ekonomi terbesar di Asia, Tiongkok diperkirakan tumbuh lebih lambat dari sebelumnya 8 persen pada 2021 dan 5,3 persen pada 2022. Sedangkan India akan tumbuh lebih rendah menjadi 9,7 persen pada tahun fiskal yang dimulai pada 1 April 2021. 

Di Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi juga diproyeksi melemah dari 3,1% menjadi 3% untuk 2021. Namun diproyeksi menjadi 5,1% pada 2022. Menurut ADB, pendekatan zero Covid yang diterapkan Beijing dapat memperparah aktivitas ekonomi, mengikuti penyebaran strain baru yang dapat terjadi di berbagai belahan negara. 

Baca juga : Presiden Tegur Mendag karena Buka Impor Bawang Saat Panen

Sedangkan untuk Indonesia, PDB riil tumbuh sebesar 3,5% di kuartal ke-3 2021, secara umum sesuai dengan harapan, akibat batasan mobilitas pada Juli dan Agustus yang memperlambat pertumbuhan di semua komponen permintaan dalam negeri. 

Namun, konsumsi dan investasi diperkirakan akan bangkit kembali di kuartal IV 2021 dengan infeksi mereda dan pembatasan dilonggarkan. Pertumbuhan ekspor dan impor juga tetap kuat di kuartal III 2021, dan ekspor bersih berkontribusi 1,2% terhadap pertumbuhan, terbesar kontribusinya sejak kuartal III 2020. 

"Permintaan yang kuat untuk Indonesia ekspor komoditas diperkirakan akan terus berlanjut. Pertumbuhan proyeksi untuk tahun 2021 tetap pada 3,5% dan meningkat untuk tahun 2022 dari 4,8% menjadi 5,0%. Sedangkan untuk inflasi, prediksinya tetap di 2,7% pada 2022," tulis laporan tersebut. 

Laporan ADB juga menyebutkan bahwa inflasi regional tetap terkendali, dengan perkiraan direvisi turun menjadi 2,1 persen pada 2021 dan tidak berubah pada tahun depan sebesar 2,7 persen. 

Hal ini berpotensi kebijakan moneter tetap mendukung. Namun, risiko kenaikan inflasi dapat mendorong AS untuk mengetatkan kebijakan moneter lebih awal dan memicu volatilitas keuangan. Sebagian besar negara berkembang di Asia telah meningkatkan tingkat vaksinasi, tetapi progresnya masih sangat bervariasi. (OL-7)

BERITA TERKAIT