11 December 2021, 11:36 WIB

ExxonMobil dan Qatar Teken Kesepakatan Gas Siprus, Turki Menentang


Mediaindonesia.com | Ekonomi

RAKSASA Amerika Serikat ExxonMobil dan Qatar Energy menandatangani kontrak pada Jumat (10/12) untuk eksplorasi minyak dan gas dan pembagian produksi di Pulau Siprus yang terpecah. Turki menentang kesepakatan itu.

Menteri Energi Siprus Natasa Pilides, CEO ExxonMobil Cyprus Varnavas Theodosiou, dan direktur International Upstream and Exploration Qatar Energy Ali al-Mana, menandatangani kontrak di Nicosia. Ini merupakan kontrak eksplorasi gas kedua yang telah ditandatangani konsorsium untuk Blok 5 di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) pulau tersebut.

Pada Februari 2019, konsorsium menemukan cadangan gas alam yang sangat besar di lepas pantai Siprus di Blok 10, penemuan terbesar di pulau itu hingga saat ini. Diperkirakan blok itu menampung lima hingga delapan triliun kaki kubik.

Konsorsium berencana mengebor sumur appraisal di Blok 10 pada akhir Desember, dengan hasil yang diharapkan pada akhir Februari. Pengeboran minyak dan gas di Siprus terhenti akibat pandemi covid-19.

"Meskipun lingkungan kerja semakin sulit untuk industri minyak dan gas global, hari ini kami mengambil langkah tegas untuk meningkatkan kemitraan kami yang saling menguntungkan," kata Pilides pada upacara penandatanganan, Jumat.

Ditanya tentang reaksi negatif Turki terhadap perizinan Blok 5, Pilides mengatakan, "Kami melanjutkan berdasarkan hukum internasional dan Hukum Laut. Ini selalu menjadi prinsip kami." Kerja lapangan di Blok 5 akan dimulai pada paruh kedua 2022.

Turki mengancam akan mencegah pencarian ExxonMobil untuk minyak dan gas di lepas pantai Siprus setelah Nicosia memberikannya hak untuk Blok 5. Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan sektor area berlisensi itu melanggar landas kontinen Turki di Mediterania timur.

"Turki tidak akan pernah mengizinkan negara, perusahaan, atau kapal asing mana pun untuk terlibat dalam kegiatan eksplorasi hidrokarbon di yurisdiksi maritimnya," kata kementerian itu. Ankara akan mempertahankan hak-haknya dan hak-hak Republik Turki Siprus Utara (TRNC).

TRNC yang memisahkan diri, hanya diakui oleh Ankara, mengklaim sumber daya energi yang ditemukan di lepas pantainya, berkeras bahwa sumber daya alam pulau itu milik kedua komunitas. Mediterania timur telah menjadi hot spot energi dengan penemuan gas alam yang signifikan untuk Siprus, Israel, dan Mesir.

Ankara dituduh melakukan diplomasi kapal perang pada Februari 2018 ketika angkatan laut Turki mencegah kapal yang disewa oleh ENI Italia mencapai target pengeborannya di Blok 3 Siprus. Komisi Eropa telah mendesak Turki untuk mengurangi eskalasi dan berjanji membela kepentingan negara-negara anggota Yunani dan Siprus.

Turki dikecam secara luas karena mengirim kapal bornya sendiri ke perairan Siprus untuk eksplorasi energi. Karenanya, Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada Ankara. Pada paruh pertama 2022, ENI dan Total Prancis diharapkan mengebor di blok berlisensi mereka.

Baca juga: Fitch: Dua Perusahaan Properti Tiongkok Gagal Bayar Utang

Siprus telah terpecah sejak Turki menginvasi dan menduduki sepertiga utaranya pada 1974 sebagai tanggapan atas kudeta rekayasa Yunani yang bertujuan mencaplok pulau itu. Nicosia telah mendorong maju dengan eksplorasi energi lepas pantai meskipun gagal pada 2017 dari pembicaraan yang ditengahi PBB untuk mengakhiri perpecahan negara selama beberapa dekade. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT