09 December 2021, 06:29 WIB

Selama Pandemi, 25,6% UMKM Masuk Ekosistem Digital 


IIs Zatnika | Ekonomi

Data World Bank pada 2021 menyebutkan UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital, pada masa pandemi covid-19 memiliki daya tahan lebih baik. Selain itu, terungkap pula, 80% UMKM  menjadikan momentum pandemi untuk mengadopsi sistem digital. 

Staf ahli ekonomi makro Kementrian Koperasi dan UKM Rully Nuryanto mengungkapkan hal itu dalam Webinar UMKM Berdaya: Peluang dan Strategi Kebangkitan UMKM 2022 yang digelar oleh Gerakan #akuberdaya.

"Setelah 2 tahun menghadapi masa gelap akibat pandemi, memasuki 2022 diharapkan menjadi tahun keemasan bagi pelaku bisnis, termasuk UMKM. Namun untuk menangkap peluang di tahun depan, dibutuhkan kesiapan, di antaranya bisnis telah go digital," kata Rully.

Jumlah UMKM saat ini, kata Rully, mencapai 65 juta unit dan memberikan kontribusi 97% terhadap total tenaga kerja dan 61% PDB nasional sehingga memiliki peran penting dalam pemulihan ekonomi. “Data menunjukkan, selama pandemi, di Indonesia transaksi di e-commerce meningkat 54% atau lebih dari 3 juta transaksi per hari, serta ekonomi digital Indonesia berpotensi senilai 124 juta dolar AS atau Rp1.700 triliun pada 2025. Selain itu, terdapat 37% pengguna jasa internet baru dan 93% konsumen akan tetap memanfaatkan digital, 4,3 hingga 4,7 jam penggunaan per hari,”  lanjut Rully. 

Data juga menunjukkan, sedikitnya 25,6% UMKM hadir pada ekosistem digital atau sekitar 16,4 juta pelaku usaha. "Pertumbuhan yang sangat cepat dibanding 2020 lalu yang masih di angka 13%. Angka ini didorong terus untuk dapat kita capai angka 30 juta UMKM (sekitar 47%) dapat onboarding digital di akhir 2024. Namun perlu ada pendekatan ekosistem mencakup proses bisnis dari hulu ke hilir atau end to end digital transformation  dan pendampingan bagi Koperasi dan UMKM Indonesia  agar dapat mengoptimalkan sepenuhnya platform digital,” papar Rully.
 
Inisiator Gerakan #akuberdaya yang juga desainer Nina Nugroho  menyatakan, kondisi pandemi 2020-2021 berdampak pada eksistensi pelaku UMKM, karena lebih dari 90%  masih berskala mikro. Mereka menjalankan usaha yang masih berskala rumah tangga, sehingga belum  memiliki rantai pasok berkelanjutan dan  barang yang diproduksi hampir sama dengan produk UMKM lain. 

Akibatnya, terjadi perang harga  yang berujung kepada tidak sehatnya persaingan. "Tantangan UMKM untuk naik kelas, mulai dari persoalan klasik mulai modal hingga minimnya pengetahuan, inovasi, tidak memiliki Mentor serta izin usaha. Webinar ini membahas kontribusi yang bisa dilakukan berbagai pihak, termasuk UKM untuk pulih dan meroket pada 2022,” jelas Nina. 

Penulis buku Rise Above the Crowd Indrawan Nugroho menyatakan 2022 adalah tahun peluang bagi UMKM, namun syaratnya, strategi menjalankan bisnis harus berubah. "Strategi pertama, ikuti pelanggan, jangan terjebak dalam cara agar laku, kiat menjual atau promosi namun melupakan aspek pelanggan. Mereka maunya apa sih, kesukaannya, pilihan-pilihannya. Riset Mc Kinsey menyatakan 75% pelanggan telah mengubah perilaku cara berbelanjanya. Mereka mencoba hal=-hal baru, mulai merek, tempat hingga metode belanja. Kuncinya ikuti pelanggan anda,” papar Indrawan. 

Strategi kedua, mengadopsi teknologi digital. "Masih menurut Mc Kinsey, masyarakat di Asia Pasific telah mengadopsi platform digital 3 tahun lebih cepat dibandingkan di Eropa, bahkan global. Jadi pelaku usaha harus separuh digital. Karena memang tidak semua layanan bisa dilakukan secara digital. Contoh, layanan pijat atau pedagang baso. Jadi menawarkannya melalui digital. Penawaran produk digital ini sepenuhnya akan berlaku pada 2035,”ujar Indrawan. 

Indrawan juga mengingatkan, saat merintis strategi digital, UMKM tidak dituntut secara keseluruhan. “Bisa dimulai dengan berjualan di market place, laporan keuangan pakai aplikasi. Kalau masih ada beberapa yang belum digital, ya tidak masalah,”  ujar Indrawan. (*/X-6)
 

BERITA TERKAIT