08 December 2021, 22:19 WIB

Tiga Faktor ini Jadi Penyebab Timbulnya Fraud dalam Perusahaan 


M. Ilham Ramadhan Avisena |

KESEMPATAN, motif, dan rasionalisasi menjadi tiga faktor mendasar terjadinya kecurangan (fraud) dalam perusahaan. Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Auditor Forensik Indonesia Bambang Utoyo dalam webinar BRIDGE bertema Mismanagement Prevention-Beyond Investigate Audit, Rabu (8/12) . 

Dia bilang, kesempatan berkaitan erat dengan pengendalian dan pengawasan internal perusahaan yang lemah. Sementara motif berkaitan dengan tekanan atau pun niat tersembunyi yang umumnya luput dari perhatian. 

Sedangkan rasionalisasi itu berada di antara formal dan informal seperti menimbang-nimbang kebiasaan yang ada di perusahaan untuk dilakukan meski diketahui itu salah. 

"Ketiga sebab fraud itu akan menimbulkan high risk bila terjadi atau muncul. Oleh karena itu yang bisa dicegah melalui hal formal adalah perbaikan pengendalian intern. Motif dan rasionalisasi itu bisa dilakukan dengan pendekatan personal," kata Bambang. 

Dia mengutip Howard Schilit, penulis Financial Shenanigans. Dalam bukunya, kata Bambang, shenangigan keuangan didefinisikan sebagai tindakan atau pengabaian yang dirancang untuk menyembunyikan, distorsi kinerja atau kondisi keuangan perusahaan. 

Shenanigan keuangan pernah terjadi pada PT Garuda Indonesia pada 2018. Saat itu perseroan memasukkan perkiraan pendapatan 15 tahun ke depan pada pembukuan 2018 untuk mendapatkan laporan laba yang menarik. Alih-alih untung, Garuda justru kian terbebani. 

Bambang, bilang rekayasa laporan keuangan justru akan menambah beban baru bagi perusahaan. Sebab, bila rekayasa itu ditujukan untuk mencatatkan laba, maka perusahaan harus menanggung beban biaya pajak, bonus, dan hal lainnya. Padahal realitanya perusahaan tersebut sama sekali tak memiliki laba. 

Baca juga : Pendapatan Anjlok, Angkasa Pura I Tunggak Gaji Karyawan

Masih mengutip Howard, Bambang menyebutkan 8 alasan munculnya shenanigan keuangan, yakni faktor serakah; meningkatkan bonus terkait kinerja; faktor ketakutan dampak negatif laporan; membantu mempermudah pembiayaan; menghindari persepsi negatif pasar; membantu memenuhi persyaratan pinjaman; mudah dilakukan; dan tidak mudah terungkap. 

Sedangkan perusahaan berpotensi melakukan shenanigans karena perusahaan lemah sistem pengendaliannya, tidak ada anggota direksi atau komisaris independen, auditor kurang independen, fungsi internal audit tidak berjalan baik; manajemen menghadapi tekanan kompetisi yang berat; manajemen diketahui atau dicurigai berkarakter meragukan; perusahaan kecil yang berkembang pesat; perusahaan yang baru go public; perusahaan non publik; dan perusahaan sudah tidak memiliki prospektif. 

Pada umumnya, sinyal-sinyal kecurangan pada laporan keuangan meliputi anomali akuntansi, pertumbuhan yang cepat, profit yang di luar kebiasaan, lemahnya pengendalian internal, dan manajemen eksekutif yang agresif. 

"Dari sejumlah sinyal kecurangan tersebut, yang paling umum adalah gaya manajemen atau karakter manajemen eksekutif. Manajemen eksekutif yang agresif, terobsesi dengan harga saham," imbuh Bambang. 

"Biasanya seorang manajemen eksekutif sulit untuk mengamati kelemahan dalam etika pribadi, tetapi juga memperlihatkan sifat agresif. Misal, para manajer eksekutif terus menerus membuat dan menyetujui target capaian keuangan perusahaan yang terlalu optimis," sambungnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT